Skip navigation

Setiap kali Rosulullah hendak ke pasar Ukaz selalu melewati satu gang kecil yang merupakan jalan tembus terdekat ke pasar tersebut.

Namun di kiri-kanan gang tersebut banyak dihuni rumah petakan kaum yahudi. Mereka sering mencemooh, memaki,meledek, bahkan ada seorang yahudi kasar sering melempar Rosulullah SAW dengan kotoran.

Hampir setiap kali Rosul ke pasar, sapaan kasar,hinaan, dan lemparan kotoran mendarat di telinga dan wajah serta badannya. Namun karena mental seorang utusan Tuhan, maka sikap sabar dan senyum selalu menghiasai wajahnya.

Anehnya, justru sikap anaknya Fatimah az Zahra, para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar sangat prihatin dan emosional atas perlakuan Yahudi terhadap Rosulullah. Bahkan malaikat Izrail yang ditakdirkan tanpa emosipun ikut panas melihat perlakuan pemuda bergelar Al Amin tersebut.

“Engkau kan Rosulullah, mengapa tidak marah dan membalas lemparan kotoran dan makian Yahudi itu?” demikian celoteh Fatimah as. Apa jawab Rosul: “Innahum ma laa ya’lamuun” (Sesungguhnya mereka tak tahu apa yang mereka kerjakan).

Sikap serupa disampaikan Abu Bakar Shiddiq, “Wahai Rosul, kalau Engkau berkenan, aku akan membalas sikap kasar mereka kepada Engkau.” Jawab Rosul pun sama:”Innahum ma laa ya’lamuun”.

Tak ketinggalan Umar bin Khattab yang mantan preman pasar Ukaz lebih tegas menyatakan: “Wahai

Rosulullah,jika Engkau mengizinkan akan aku tebas batang leher yahudi brengsek yang sering melempari kotoran terhadap-Mu!” Rosul pun konsisten dengan jawabannya: “Innahum ma laa ya’lamuun”.

Pernah suatu ketika Rosulullah SAW membersihkan kotoran bekas lemparan si Yahudi usil di bawah pohon dekat sebuah bukit, datang malaikat Izrail dengan wajah sedih bercampur geram. “Wahai Rosul, aku tak tega melihat perlakuan mereka terhadap Engkau. Jikalau Engkau berkenan akan aku balikkan bukit ini dan aku tumpahkan di atas kediaman mereka. Atau aku akan cabut nyawa mereka dengan cara yang paling menyakitkan,” demikian pinta Izrail.

Tapi, itulah dia Muhammad SAW. Dengan kecerdasan emosional yang optimum tetap mengatakan “Innahum ma lla ya’lamuun”.

Suatu hari Rosul kembali melewati gang yang sama menuju pasar Ukaz. Tapi hari itu Rosul tidak mendapati lemparan kotoran dan makian si yahudi yang sengit itu. Lalu Rosul bertanya kepada para tetangga Yahudi itu,” Kemana saudaraku yang rajin menegurkan (baca: melempar kotoran) kala aku lewat di gang ini?”

Tetangga itu berkata: “Dia sedang sakit di ruang atas,badannya panas dan menggigil, dia seperti hendak berpulang karena sakitnya parah!” Lantas Rosul pun beranjak ke atas menemui Yahudi usil tersebut, ketika dihampiri Rosul si Yahudi ketakutan bukan main dan dengan tubuh gemetar dan keringat menjagung dia memohon: “Jangan, jangan kau sakiti aku, aku minta maaf atas keburukan perilakuku. Tapi bila Engkau hendak membalas dendam, aku akan pasrah menerimanya.”

Rosul pun tersenyum dan mendekati si Yahudi sambil mengambil segelas air zam-zam, lalu air itu dibacakan doa untuk si Yahudi. “Minumlah ini air, Insya Allah kamu akan sembuh,” ujar Rosulullah.

Kontan saja, setelah air diminum tubuh si Yahudi tampak lebih bugar dan sehat. “Kalau boleh aku minta maaf sekali lagi, tapi siapakah Anda hai Bapak?” Rosul pun menjawab: “Sayalah Muhammad, Rosul Allah yang ditugaskan untuk memperbaiki akhlaq!” Sejak saat itu si Yahudi bertobat dan memeluk agama yang diajarkan Rosulullah. “Subhanallah, begitu agung akhlaq-Mu Ya Rosul,” ujar Abu Bakar.

————————–

Adakah sebuah pertanyaan di dalam dada setelah membaca hikayat di atas ?

– masihkah kita merasa sudah berma’rifat kepada Allah ?
– merasa kita paling baik dalam berakhlaq ?
– merasa tinggi dalam ilmu kita ?
– merasa perilaku kita paling benar ?
– merasa dengan kekayaan – kita sudah di berkati ?
– merasa kebaikan yang kita lakukan sudah cukup membeli lahan surga ?

———
Saran :

– jangan sekali-kali di dalam pikiran bahwa sebagian hikayat2 yang ada dilihat dan dibaca seperti sebuah dongeng

– mulai belajar dan di applikasikan tentang akhlaq.

2 Comments

    • wahyudin ahmad
    • Posted 20 Maret 2011 at 5:40 pm
    • Permalink

    subhanalloh,betapa agung dan mulianya sifat junjungan kta itu.
    —————
    salam kenal.

    semoga kita semakin dewasa dalam beragama. yang sering terlupakan adalah bagaimana kita “hijrah” … dari akhlaq yang jahil ke akhlaqnya rasulallah Muhammad s.a.w.

  1. Semoga allah swt melimpah kn rahmat x terhadap orang yg mau berbagi terlebih dngan ilmuxa ttang ajaran nabi muhamad saw ,, say berskur telah bisa masuk kesini dan bisa mengetahui apa yg belum q ketahui terima ksh ,,wasalm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: