Skip navigation

Selanjutnya kita lihat kitab Barnabas berikut ini :

“…kemudian berkata Yesus, demi Allah pada hadirat-Nya Ruhku berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita. Karena demikian saling merapatnya antara Ruh dan perasaan telah berhubungan bersama, hingga sebagian besar manusia mengiakan Ruh dan perasaan itu menjadi satu dan hal yang sama, hanya terbaginya dalam penugasan sedangkan tidak dalam wujud, menyebutkannya sensitive (rasa perasaan), vegetative (tubuh yang tumbuh) dan intellectual soul (Ruh berfikir, cerdas akal). Tetapi sungguh aku katakan kepadamu, ruh itu adalah satu, yang berfikir dan hidup. Orang-orang dungu, dimanakah akan mereka dapatkan ruh akal tanpa kehidupan ? tentulah keadaan ketidak sadaran, apabila rasa perasaan meninggalkannya.” Thaddeaus menjawab, “O Guru, apabila rasa perasaan (sense) meniggalkan kehidupan (life) seorang manusia tidak mempunyai kehidupan.”

Ayat diatas menjelaskan banyak orang tertipu mengenai kehidupan, sesungguhnya Ruh itulah yang menyebabkan orang itu hidup dan berfikir dan memiliki perasaan (sense), tubuh yang bergerak dan tumbuh, berfikir dan berakal. Semuanya itu karena adanya Ruh. Dan Thaddeaus menyimpulkan bahwa jika manusia tidak memiliki Ruh maka tidak akan ada kehidupan pada dirinya. Berarti rasa (sense) intellectual soul merupakan intrument ruh.

Kemudian pada pasal 123

Ketika semua duduk, Yesus berkata lagi, ALLAH kita untuk memperlihatkan kepada makhluk-makhluk-Nya kasih sayang-Nya dan rahmat serta Maha Kuasa-Nya, dengan Maha pemurah dn Maha Adil-Nya, membuat sesunan dari empat hal berlawanan yang satu dengan yang lain, lalu menyatukannya dalam suatu tujuan ahkir, itulah manusia dan ini adalah tanah, udara, air dan api. Supaya tiap-tiap satu sama lain menenangkan pertentangannya. Dan dari empat benda ini, dia menjadikan sebuah kendi (bejana) itulah tubuh manusia, daging, tulang-tulang, darah, sum-sum dan kulit dengan saraf-saraf dan pembuluh-pembuluh darah, dan dengan semua bagian-bagian dalamnya; dalam tempat itu Allah meletakkan RUH dan rasa perasaan, laksana dua tangan dari hidup ini. Memberikan tempat kepada rasa perasaan pada setiap bagian tubuh untuk itu menebarkan dirinya disana seperti minyak. Dan kepada Ruh, dia memberikan untuk tempatnya hati, yang bersatu dengan perasaan, dialah akan menerima seluruh kehidupan itu.

Ayat ini menerangkan penciptaan manusia seperti terdapat di dalam Al qur’an surat Al Hijir 28-29 , sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku , maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud, Surat Al mukminun: 12 , berasal dari ekstrak tanah

Surat Al hajj : 5, manusia dari turab (berupa debu)

Surat Ar Rahman : 14 , dari tanah liat yang kering seperti tembikar.

Pasal 179, dikatakan Ruh itu bersifat universal dan besarnya 1000 kali lebih besar dari seluruh bumi.

Jiwa adalah bersifat sangat luas dengan identitas dirinya yang dipanggil sebagai feminin karena sifatnya yang universal – Ya Ayyatun nafsul muthmainnah – wahai jiwa yang tenang. Penggunakan Ya nida'(Ayyatuha) atas jiwa sebenarnya biasa digunakan untuk memanggil wanita, juga untuk panggilan (nida’) sesuatu yang sangat luas berdasarkan dalil kullu jam’in muannatsin – sesuatu yang bersifat universal atau luas disebut muannats (feminin). Misalnya, jannatun (syurga), samawat (langit), Al Ardh (bumi), Al jamiat (universitas / universal).

Hampir jarang orang menyadari akan dirinya sebenarnya sangat luas, akan tetapi kesadaran ini telah lama menyesatkan fikiran kita yang menganggap bahwa diri kita sebatas apa yang tergambar secara kasat mata saja, padahal lebih dari yang ia bayangkan, bahwa manusia baik logam, tumbuhan dan gunung adalah sebetulnya terdiri dari suatu untaian kejadian-kejadian atau proses. Dimana segala alam lahir ini tersusun oleh senyawa-senyawa kimiawi yang dinamai zarrah (atom). Dan atom-atom ini dalam analisa terakhir adalah satu unit tenaga listrik, yang energi positifnya (proton) berjumlah sebanyak energi negatifnya (electron) di dalam atom ini – setiap detik terjadi loncatan dan pancaran (chark and spark) secara terus menerus. itulah semburan-semburan yang tidak ada hentinya dari daya listrik. Manusia tidak mampu melihat semburan atau loncatan yang tidak putus-putus dengan kecepatan yang sangat luar biasa ini dengan kasat mata biasa, kecuali dengan kesadaran ilmu yang cukup – sebagaimana Al qur’an mengungkapkan tentang gunung yang dianggap oleh orang awam seperti diam tak bergerak :

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.” [QS. An Naml:88]

Secara fisik, manusia bersifat luas dan ruhani meliputi keluasan alam semesta.

Insya Allah … bermanfa’at. amin.

41 Comments

    • ekapratiwi
    • Posted 28 Januari 2009 at 8:46 am
    • Permalink

    ikutan ngaji biar jadi sufi…. salam kenal dan damai selalu.
    MIGUNANI …………….
    _________
    salam kenal kembali mba Eka, senang sekali dikunjungi … mengaji “hayat” dan “ayat” dua2nya penting. jadi sufi ? .. jadi harus siap2 ber-angsur2 melepaskan warn(a)2(i)nya dunia …🙂

  1. Mas memahamisufi (nickname ?),

    Kalau saya memikirkan ruh, malah bingung ngga’ karuan.
    Kalau saya lebih senang berkaca, apakah kaca yang saya lihat itu masih buram atau sudah mulai cerah. Kalau sudah agak cerah, saya mencoba melihat lagi apakah masih ada wajah angker dan emosional disana, apakah sudah ada sifat empati disana dsb. Kalau belum ada, saya mencoba mencari cara bagaimana mengubah pantulan wajah itu agar menjadi lebih baik.
    Untuk sementara, pencapaian target itu saya rasakan cukup sulit. Nanti kalau sudah lulus tingkat dasar ini, mungkin saya akan ikutan memikirkan tentang ruh, mata pelajaran di tingkat strata dua🙂

    Salam.
    _____________
    mas lambang boleh panggil saya masJK.
    memang saya tidak berharap bahwa permasalahan ruh untuk dipikirkan, tapi untuk mencari tahu. dengan niat bahwa pencarian itu semata-mata insya allah dapat menjadikan penambah iman. sekali lagi tidak u/ dipikirkan, nantinya bisa jadi yang didapat hanya kepusingan.
    pemabahasan mengenai ruh yang sangat sedikit ini diharapkan menjadikan kita tambah semangat, untuk menggali lebih dalam lagi apa makna sesungguhnya diri ini. sebagai gambaran kecil saja saya mengilustrasikan bahwa di dalam diri kita hanya berisikan “setetes air” yang diberikan dari luasnya “air di lautan”. namun jika kita mengetahui makna setetes air tersebut maka sama halnya kita mengetahui hakekat “air” yang demikian luas di lautan.

    mohon ma’af jika ada salah kata.
    damai selalu.

    • adefadlee
    • Posted 16 Februari 2009 at 4:00 am
    • Permalink

    Masalah zat ruh itu memang kita tidak tahu, tapi ilmu tentang ruh itu atau ilmu ruhani itu kita perlu tahu. Karena hakikat diri kita adalah ruh tersebut. Karena ruh itu yang merasa, rasa senang, gembira, sedih, dan lain2. Ruh kita ini yang akan disiksa di dalam kubur nanti, yang akan ditanyai di Padang Mahsyar dan menerima balasan di hari akhirat nanti. Maka ruh kita ini perlu dididik, yaitu sifat-sifat mahmudahnya perlu disuburkan dan sifat mazmumahnya perlu ditumpaskan.

    Sebelum manusia dilahirkan ke dunia, sebenarnya ruh itu sudah kenal dengan ALLAH, namun bila sudah ada di dunia, manusia engkar dengan ALLAH, karena manusia memiliki dua musuh batin yakni syaitan dan hawa nafsu, inilah yang mesti dilawan dengan ilmu tasawuf.

    Ruh itu hakikatnya satu, namun bila dia merasa dinamakan hati/jiwa/ruh. Bila dia berfikir dinamakan akal, dan bila berkehendak dinamakan nafsu. Nafsu inilah yang perlu dididik karena dia cenderung berkehendak kepada kejahatan, dan dia adalah laluan bagi syaitan untuk menggoda kita.

    Sedangkan ruh para nabi, ruhnya suci (muqaddasah) karena telah terbebas dari belenggu nafsu, dan mutassarif (berperanan)…Wallahualam
    ____________
    saya tidak bisa menyanggah pendapat tentang ruh yang nantinya akan disiksa karena mungkin ada di dapat dari sumber2 pengetahuan yang lain. namun saya ada yang tetap pada pendirian bahwa ruh adalah “ilmu dan kekuasaan-Nya” yang berisikan dan selalu menuruti amr2 (perintah2) Allah swt. Ia tidak terpengaruh dan bercampur dengan nafsu dan kefujuran (kejahatan2 yang dilakukan diri).

    mohon ma’af jika ada kekurangan.
    wass.

  2. Salam Maya Mas JK!

    Semua kita sudah banyak faham tentang tubuh.
    Semua kita sudah mulai ngerti tentang jiwa.
    Tapi semua kita tak tau banyak mengenai roh.

    Ketiga-tiganya ini ku konsentrasikan dlm blog ku,
    Bahwa kita terdiri dari tubuh, jiwa dan roh,
    Lalu, segala ada ku coba pikir dr tiga sisi.
    Lihatlah! Mulai dari bayi!

    Salam Pikir Tiga!
    _______
    hemm …

  3. Ass…mas JK aq pgn berthariqat aq harus kemana mencari mursyd yang sejati tlg hub lwt Ddlest@gmail.com/085751006040

  4. @Mas JK

    Ngomen dong di blog ku!
    Kemungkinan ada kesamaan,
    Atau ada perbedaan kita memandang roh

    Salam Pikir Tiga!

  5. Kalo buat aq RUH adalah jalan untuk mengenal rahasia ilahi…siapa dapat menyelami atau mengetahuiny insyaallah dia pasti dkt dgn Allah…maaf ya kalo penafsiran aq mash kurang lengkap soale mash orang awam…He..he..he.

  6. @jokosio

    Ide mu sama dgn ku.
    Mengenal yang Illahi,
    Kudu dgn roh, tak bisa lain.

    Salam!

  7. Salam maz,numpang mampir🙂
    Mungkin itulah yg hendak dikatakan oleh para utusan illahi.
    -“aku adalah dia,dia adalah aku”
    -“tiada jalan menuju bapa disurga selain melalui aku”
    mengutip tpi msh salah :-)tolong dibenerin n mohon dimaklumi z maz.yg bikin rumit kan gimana???kita mengetahui,mengerti,menghayati ruh yg ada didalam dirikita…..sampai benang merah tinta penunjuk jalanya ga putus2 n ga akan pernah berakhir sampe berhentinya bumi berputar.
    Semoga kita diantara orang2 yg diberi kemampuan untuk memahami rahmat NYA.
    Wassallam

  8. Ttg roh,
    Kita hanya mereka-reka
    Melalui gejala-gejanya saja.
    Aku melihat secara dangkal melalui:
    Jarang kepang, Leak Bali, Paranormal,
    Mimpi, Santet, Voodo, Kesurupan, dls.

    Aku yakin,
    Bahwa roh yang ada di dalam diriku
    Lebih besar dp roh yg ada di dlm dunia.

    Salam Pikir Tiga!

  9. Assalammualaikum…
    Terus ortu qt kasih qt sebuah nama tapi maaf ya teman teman aq mash gk tau dimana letak nama aq ada yang bisa bantu gk…kalo bagi aq yg namanya leak,pocong,kuntilanak buat aq adalah arwah yg nyasar gk nyampai ke allah…

  10. He..he..he!
    Arwah nyasar!
    Kali ada benernya.

    Orang yg cinta kesumat pd dunia,
    Arwahnya suka nyimpang-nyasar,
    Terbangnya riuh-rendah,
    Suka ngagetin orang,
    Gampang dibotolin,
    Bisa dikasi order,
    Doyan sesajen,
    Kali begitu.

    Salam Pikir Tiga!

  11. Mas apa bener ya!!!arwah nyasar ini sewaktu hidupnya mengabdi sama syaitan???setahu aq org mati itu kalau gk digebukin sama malaikat yang amalnya kurang baik terus yang satunya nyantai dialam kubur menunggu hari pengadilan,jadi arwah nyasar ini pasti tangan kanan syaitan yg berusaha menggoda manusia…

    • bahtiarian
    • Posted 27 April 2009 at 8:02 pm
    • Permalink

    Ah semua ilmu yang diberikan Tuhan kepada manusia memang cuma sedikit. Jadi, kalau ada isyarat Tuhan bahwa ilmu tentang ruh itu sedikit, bukan berarti tidak bisa kita ketahui. Dan pastinya, yang bisa kita ketahui juga cuma sedikit. Bila ayat-ayat dalam Quran yang mengisyaratkan tentang ruh itu mutasyabihat, apakah itu isyarat juga bahwa kita boleh mencari tahu tentang ruh itu lewat jalan-jalan lain? Ataukah Muhammad SAW menyampaikan informasi tentang ruh itu pada kalangan terbatas?

    • bahtiarian
    • Posted 27 April 2009 at 8:21 pm
    • Permalink

    “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku , maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud,” Surat Al mukminun: 12.

    Saya berpendapat bahwa kemuliaan manusia terletak pada ditiupkannya (sebagian) ruh Tuhan kepada manusia. Karena itu pula para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada manusia pertama setelah ruh itu ditiupkan kepadanya. Setelah ruh itu ditiupkan, manusia mampu bernafas.
    “Allah memegang jiwa/nafs (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa/nafs (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan {1314}. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (SURAT AZ ZUMAR (ROMBONGAN-ROMBONGAN) ayat 42)”
    Saat tidur manusia masih bisa bernafas, tidak demikian halnya dengan yang sudah wafat. Nah, pada saat tidur itu ‘kesadaran’ orang hilang, tapi tubuh fisik masih bernafas. Pada saat wafat, nafas fisik hilang, ‘kesadaran’ pun hilang.
    Sementara itu, pada saat terjaga, nafas ada, kesadaran pun muncul. Pertanyaan yang mengganjal: apakah ruh mempengaruhi ‘kesadaran’ kita sementara nafs mempengaruhi nafas fisik kita?
    Bila demikian halnya, berarti pada saat tidur ruh kitalah yang dalam ‘genggaman’ Tuhan dan nafas kita dibiarkan melekat pada jasad. Sedangkan pada saat wafat baik ruh maupun nafs keduanya berada dalam ‘genggaman’ Tuhan.

    • bahtiarian
    • Posted 27 April 2009 at 8:40 pm
    • Permalink

    Bagaimana dengan para syuhada? Bukankah mereka tidak mati dan masih diberi rizki?

    • bahtiarian
    • Posted 27 April 2009 at 8:41 pm
    • Permalink

    Ada yang terlupa….
    Salam kenal🙂

  12. ikut comment ya….
    kalo dalam diri setiap manusia ada tiupan ruh-NYA.
    ahh,jangan pernah lagi menyakiti sesama,hidup damai,saling mengasihi de el el

  13. Wah,
    Udah mulai rame juga yg mulai tau roh.
    Di blog-ku, roh itu kubedakan dari jiwa.
    Pls sanggah atauwa lengkapi! Tq!

    Salam Pikir Tiga!

    • Wolo Wolo Kuwato
    • Posted 25 Juni 2009 at 1:20 pm
    • Permalink

    “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit” [al-Isra’ : 85]
    dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan manusia tentang Ruh/gaib tsb sedikit. dalam artian Sedikit ilmu pengetahuan manusia tentang ruh/gaib atau sedikit orang yg tahu tentang Ruh/gaib seperti adanya fenomena anak indigo yg tahu tentang gaib/metafisik.orang indigo lenih sedikit jumlahnya di banding dengan orang normal.

  14. Aku pun sedang heran,
    Mengapa hal yg demikian penting itu sedikit?
    Sementara hal penyiksaan dan kengerian itu begitu banyak!

    Dan,
    Apakah yg banyak lebih penting dari yg sedikit?

    Dan,
    Apakah yg sedikit tak bisa kita perbanyak?

    Dan,
    Seperti dari lintas galaxy ke lintas elektron, ada berapa banyak?

    Salam Sedikit!

  15. salam kenal…
    ruh itu urusan Allah, manusia tidak lah mengetahui melainkan sangat sedikit….banyak yg berangggapan sangat sedikit ini berarti ya sangat sedikit jadi tidak usah dibahas ntar salah lagi begitu menurut para ulama syar’i.

    tapi menurut para sufi bahkan kejawen…sangat sedikit ini mempunyai arti sangat besar, sebab sangat sedikit menurut Allah beda dgn menurut manusia….jadi sebanyak apapun pengalaman dan pengetahuan kita tentang ruh maka akan tetap sangat sedikit bagi Allah akan menjadi sangat besar bagi kita apabila kita ikhlas, syukuri dan tidak sombong…

    nuwun

  16. @mastono

    Betul sekali, Mas Ton!
    Semakin sedikit semakin dicari bagi diri.
    Semakin banyak semakin dibagi dari diri.

    Salam Damai!

  17. Setiap “benda hidup” pasti di dalamnya terdapat “ruh”.

    Kita mulai dengan satu pertanyaan “Mengapa manusia bisa hidup?” jawaban paling sederhana adalah “Karena ada ruh di dalamnya, coba kalau ruhnya pergi, maka orang tersebut pasti akan mati”

    Pertanyaan kedua “Bisakah ruh tetap tinggal di tubuh seseorang, tanpa makan dan minum?”

    Jawabannya, tanpa makan dan minum untuk waktu tertentu, pasti manusia bakal mati. Sebab, untuk bisa mempertahankan hidup,SALAH SATUNYA harus makan dan minum.

    Jadi boleh dikatakan bahwa untuk bisa mempertahankan ruh SALAH SATUNYA HARUS MAKAN DAN MINUM. Apakah ruh itu sama dengan makanan dan minuman? jawabannya :PAsTI BUKAN!!!

    Lalu apa syarat-syarat eksistensi RUH? sebelum kita menjawab, ada baiknya saya bertanya lebih dulu tentang persoalan yang riil.

    Anda pasti pernah melihat ada sebuah sepeda onthel yang meluncur dijalanan. Pertanyaan sederhana adalah “Mengapa sepeda itu bisa meluncur di jalan?”

    Nah pertanyaan yang sangat simpel ini pasti akan mengundang debat yang panjang. Sebab, bisa saja dijawab “sepeda itu bisa meluncur karena ada rodanya” jawaban ini benar, tetapi bukan hanya ke dua buah roda itu saja yang menyebabkan sepeda itu bisa meluncur.

    Masih ada sejuta faktor yang menyebabkan sepeda itu bisa meluncur. Lho kok banyak banget samapai sejuta faktor? iya karena ENERGI hidup (gerak) itu memang VERY COMPLEXS, dimana masing-masing saling kerjasama membentuk LINGAKARAN GERAK/KEHIDUPAN.

    Jadi tidak ada NYAWA ATAU RUH tanpa HIDUP, sebaliknya tidak ada HIDUP TANPA RUH. Ruh dan Hidup adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

    Oleh karena itu, ketika seseorang itu mati maka berakhir pulalah eksistensi ruh di dalam tubuh orang tersebut. Ruh itu telah berubah wujud menjadi ENERGI DALAM BENTUK YANG LAIN.

    Ruh memang tidak bisa mati karena ruh adalah satuan energi. Dengan demikian ruh sangat NETRAL yang tidak mungkin memiliki dosa dan kesalahan, sehingga ruh tidak mungkin bisa disiksa.

    demikian pendapatku.
    salam

    _____________________________

    mas JK

    alhamdulillah … salam kenal (pak) suprayitno
    demikian menarik … insya allah dapat menambah manfa’at untuk diri saya dan juga teman2 qt yang lain. atau ada teman2 yang dapat menambah/memperluas komentar saya u/ (pak) suprayitno, saya sangat berterima kasih sekali.

    ~~~~~
    sebagai catatan : mhn ma’af u/ teman2 yang sampai saat ini tidak pernah terjawab berbagai sapa’an2 yang ada dalam email/komentar. Saya mohon dimaklumi karena sampai saat ini saya masih belum stabil dalam penggunaan waktu karena berbagai faktor, (misalnya kerjaan dll.)
    ~~~~~

    wass.

  18. Jadi tidak ada NYAWA ATAU RUH tanpa HIDUP, sebaliknya tidak ada HIDUP TANPA RUH. Ruh dan Hidup adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

    Setelah mati lalu ruh berpisah,
    Apa setelah berpisah lalu mati.

    Oleh karena itu, ketika seseorang itu mati maka berakhir pulalah eksistensi ruh di dalam tubuh orang tersebut.

    Mungkin bukan di dalam,
    Mungkin juga bukan diluar,
    Tapi apa mungkin pada.

    Ruh itu telah berubah wujud menjadi ENERGI DALAM BENTUK YANG LAIN.

    Bila ruh itu dari langit dan jiwa itu dari dunia dan tubuh itu dari bumi, maka setelah mati tubuh kembali kebumi, lalu jiwa dan ruh?

    Entengnya menurutku,
    Ruh orang baik menjadi ruh-berjiwa, terbang tinggi berbahagia.
    Ruh orang jahat menjadi jiwa-berruh, melayang rendah gentayangan, hh.

    Salam Damai!

  19. Sekali lagi entengnya:
    Jiwa beruh itu mungkin abot karna masih doyan sesajen sehingga terbangnya rendah, suka seliweran ngagetin orang, hh dan konon masih bisa dipanggil-panggil utk dikasih order atau dibotolin, hh.

    Ruh berjiwa itu entah lah,
    Entah kemana dia perginya,
    Menanti hari penghakiman.

    Salam Damai!

  20. kalau boleh saya ilustrasikan seperti GULA dengan MANISnya …. bisa di PISAH ? … yang amat terpenting barangkali adalah seberapa IMAN kita dengan keCINTAan yang ada, kita mengAPLIKASIkan MANIS itu sebagai BEJANA/WADAH sehingga terlihat PAS. dan inilah yang saya maksud dengan MANUNGGALING KAWULO GUSTI.

    mohon ma’af ya mas MAREN, ala kadarnya.

    • Karl Marx
    • Posted 11 Juli 2010 at 5:48 pm
    • Permalink

    KALIAN SEMUA ITU NGOMONG APA?
    RUH ITU KELIATAN APA NGGAK?
    SEMUANYA PUNYA PENDAPAT SENDIRI, ADA YANG NGALOR, NGIDUL, NGULON, NGETAN.
    SAMA SAMA PERCAYA RUH TAPI KOK GAK SAMA PENJELASANNNYA.
    KALIAN DITIPU OLEH AGAMA, SEMUANYA HANYA ILUSI BELAKA, UNTUK MENAKUT-NAKUTI PEMELUKNYA.
    PALING ENAK ITU IKUT AGAMA ATHEIS, BAHWA GOD IS DEAT.

  21. alhamdulillah, sy sengaja memasukkan semua pendapat tak terkecuali pndapat mas karl marx (brngkali nama yg mmbuat diri jd lebih bangga :)) . n prbedaan pendapat itulah yg d sbt ilmu, tak trkecuali juga pndpat mas karl marx. yg jelas bahwa penentangan n kemungkaran pd alqur’an sudah ad dari dulu dan bahkan jauh lebih dahsyat. maka bagi sy pribadi tidak ad yg prlu mnjadi resah.

    • sayyid
    • Posted 17 September 2010 at 6:16 pm
    • Permalink

    salam,
    saya atas kehendak Allah pernah berbicara dengan ruh seseorang.
    ruh berkata dan bertanya kepada saya demikian:
    -saya adalah ruh.
    -darimanakah asal saya dan mengapa seluruh anggota badan ini bergerak, lihat tangan dan kaki saya dan seluruhnya.

    Saya menjawabnya insyaAllah demikian:
    soal ruh adalah urusan Allah, sewaktu seorang hamba dibentuk oleh Allah S.W.T diperut seorang ibu,Allah menempatkan ruh ciptaaNYA pada hamba tersebut.Anda bergerak oleh karena kehendak Allah.
    Ruh tersenyum dan tunduk.

    Sayapun pernah mengajak ruh seseorang membaca Alquran pada sesuatu surah ternyata kepinteran ruh adalah sama dengan seorang hamba yg membacanya.
    kesimpulan saya sbb,
    jika kta bodoh, ruh kita pun begitu juga.
    jadi kita belajarlah agar kita bimbing ruh kita juga, agar dia juga berada pada jalan yg lurus.

    salam,
    sayyid.

  22. @Mas Karel Mark

    Utk mengerti diri ruh,
    Kudu ngerti tertiga ini,
    Aku tubuh, jiwa dan ruh.

    Dasarku:
    1 tubuh = 1 tanaman
    1 tubuh + 1 jiwa = 1 binatang
    1 tubuh + 1 jiwa + 1 ruh = 1 orang

    Paradigma-1:
    1 tubuh + 1 jiwa + 0 ruh = 1 orang mati
    1 tubuh + 0 jiwa + 1 ruh = 1 orang gila
    0 tubuh + 1 jiwa + 1 ruh = 1 orang halus

    Paradigma-2:
    1 tubuh + 1 jiwa + 2 ruh = 1 orang kesurupan
    1 tubuh + 2 jiwa + 1 ruh = 1 orang bencong
    2 tubuh + 1 jiwa + 1 ruh = 1 orang kembar siam

    Paradigma-3:
    1 tubuh +2 jiwa + 2 ruh = 1 orang bencong kesurupan
    2 tubuh +1 jiwa + 2 ruh = 1 orang kembar siam kesurupan
    2 tubuh +2 jiwa + 2 ruh = 1 org bencng kembr siam kesurupn

    Ehm!

    Kesimpulan sementara:
    1 tubuh +1 jiwa + 1 ruh = 1 orang
    Tak kurang tak lebih, Mas! Pass!

    Salam Pikir Tiga!

    ~~~~~~~~~~~~~~

    satu lagi dari yang lain kita jadikan sebagai ilmu dari mas Maren. sungguh bermakna sangat luas, namun harus sangat hati2 sekali memahaminya.

    dalam sebuah wejangan jawapun ada yang demikian, namun ada penekanan yang puncak di dalam wejangan tersebut. yakni setelahnya mengetahui … “apakah kita bisa manunggal ?”

    perkataan hati2 disini saya maksud adalah jika kita ingin mendalaminya kita haruslah praktek/berbuat/ amaliah dan kesemuanya harus masuk dalam perbuatan (af’al)-Nya Allah. (la ilaha ilallah) dalam riyadah dzohir dan bathin.

    untuk tidak kebablasan … barangkali kita harus tetap berfikir bahwa TUHAN dan HAMBA itu tetap berbeda. jika sama maka tidak akan pernah ada pernyataan HAMBA. sekiranya tidak berbeda maka kita berpegang pada mazhab FIR’AUN.

    mudah2an tidak menjadikan tambah bingung ….😀

    masJK

    • Nofi arman
    • Posted 31 Oktober 2010 at 8:23 am
    • Permalink

    Aslmkum…sebelumnya saya mohon maf skiranya ada pertanyaan saya ini yang tidak berkenan bagi bapak2 yang lebih mengerti dari saya, saya vhanya lah seorang hamba Allah yang masih mencari tentang suatu kebenaran,apakah benar pemahaman tentang wadhatul wujud itu menyimpang?
    klo tidak mohon bapak2 jelaskan, klo iya tolong jg dijelaskan. sebab banyak orang yang saya temui yang memiliki pemahaman wadhatul wujud atau jawanya manungaling kawulah gusti itu, klo sholat banyak meniadakan syariat,
    sholat cukup dg ruh itu katanya, sebab yang saya tahu sholat itu wajib bagi ruh dan jasad, sepertihalnya siapa yang sholat dan siapa yang disholatkan. mohon penjelasan bg bapak2 yang lebih mengerti dari say..
    thanks

    wassalam

    ____________________________________________

    wa’alaikum salam wr.wb.

    Sdrku Nofi,

    untuk perkara2 yang seperti ini (masuk dalam dimensi astral) saya memang tidak terbiasa untuk mengatakan salah. tapi juga tidak membiasakan untuk berkata benar, juga tidak berarti saya senang bersikap men-dualisme. sikap seperti ini tetap saya pertahankan dan ini saya maksudkan adalah bagi orang2 yang memang sudah praktek dalam bidang kerohanian. karena kalau sudah menginjak ke perkara ini, maka perkara tersebut adalah se-benar2nya sebuah perkara yang hanya dia dan DIA yang tahu. dan alhasil, kesemuanya adalah se-benar2nya sebuah perkara ILMU. dan kemudian kalau yang sdrku maksudkan adalah pinta pendapat mengenai sekedar teori2nya hulul, wahdatul wujud, atau yang menyetujui patheisme dsbnya. maka jawaban saya pribadi adalah sebaiknya cukup membaca dari banyak buku2 yang sumbernya bisa dipercaya yang dapat menjelaskan tentang itu.

    namun demikian … mungkin ini sekedar sedikit saja pendapat2 dari saya bahwa … banyak yang ter-kagum2 dengan istilah2 penyatuan DIRI dengan TUHAN, alhasil kesemuanya terbawa menjadi suatu bahan perdebatan bahkan bahan perpecahan ketimbang mereka mencari tahu bagaimana harus mulai mencoba terjun dan berada di dalamnya. dan juga karena hal yang satu ini adalah merupakan se-benar2nya sebuah perkara “tema rahasia”. ilusinya adalah seperti kita sedang mencari dan ingin memasuki sebuah pintu. dan ternyata yang apabila kita masuk maka pasti kita akan “silau” karena “gemerlapnya” keindahan2 dari rahasia2 yang ada di dalamnya itu. dan setelahnya selayaknya kita tidak mencoba memaksakan diri untuk mengungkapkan kepada yang lain, karena apa ? .. karena “bahasa dan pikiran” manusia memang sudah di seting tidak akan mampu menampung “gemerlapnya” keindahan rahasia2 itu dengan sebuah definisi atau ungkapan2 indah saja … tanpa masuk sendiri langsung melalui sebuah pintu yang diperuntukkan bagi tiap2 diri itu. dan sesungguhnya pintu bagi tiap2 diri itu berbeda .. karena kadar (kualitas) diri bagi tiap2 diri adalah memang berbeda.

    pintu2 yang berwarna warni itu tidak akan pernah bisa terbuka tanpa sebuah kunci master yang berwarna putih murni … kunci yang demikian itu hanya ada satu yaitu kunci yang bertuliskan “tiadakan TUHAN2 lain selain AKU (La ilaha ilALLAH).

    seperti sebuah semboyan iklan yang sudah akrab kita dengar… ingat ALLAH lupakan YANG lain :p

    sebenarnya masih pingin panjang2 lagi … tapi mudah2an yang singkat ini bisa dapat melegakan dahaga .. meski cuma seteguk. insya allah .. amin.

    wassalam,

    m@sJK

    • sayyid
    • Posted 5 November 2010 at 5:34 pm
    • Permalink

    wallaikum salam wr.wb,
    InsyaAllah saya ingin menjawab pertanyaan bapak.
    firman Allah pada Alquran surat az dzariyaat ayat 51:56.
    Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahKU.

    artinya
    Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadaNYA.
    Untuk beribadah kita memerlukan peralatan tubuh.
    Beribadah artinya sangat luas
    sholat,bersedekah,berpuasa,berzakat, berkerja dan lain-lain.

    jangan memasuki bidang roh karena soal roh hanya urusan Allah dan sedikit kita memahaminya.

    Dan jangan anda mengikuti orang-orang tersebut, karena Allah telah berfirman pada surat al kahfi ayat 28.
    Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yg menyeru Tuhanya dipagi dan senja hari dengan mengharapkan keredhaanNYA dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka dikarenakan mengharapkan perhiasan duniawi, dan janganlah kamu mengikuti orang yg hatinya telah kami lalaikan dari MENGINGAT kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

    saya ada kenal dengan seseorang yg mengikuti sekte ini.
    Dia menyebutan dirinya satu dengan Tuhan dan akhirnya dia tuhan.

    salam,
    sayyid

  23. bagaimana mungkin pak sayyid meletakan kata “melampaui batas” dalam pembahasan topik dalam “sufi” ? ….

    “sufi” barangkali sebuah sekte ? … masya allah …

    alhamdulillah … mudah2an saya bisa belajar dari bapak lebih banyak.

    • sayyid
    • Posted 28 Desember 2010 at 1:21 am
    • Permalink

    Assalamualaikum wr.wb,
    mas jk yg mulia,
    saya hanya menjawab pertanyaan mas norfi arman dan bukan menyebutkan sekte dalam kata sufi.
    bagi saya seorang sufi yg sejati tidak meninggalkan ibadah-ibadah yg wajib yg telah diajarkan oleh rasulallah s.a.w.
    walaupun demikian ada juga banyak orang tidak mengerti makna wadhatul wujud tersebut.
    wadhatul wujud bagi saya adalah :Wahdatul wujud = memunculkan Tuhan di dalam diri.
    bukan melebur atau bersatu dengan Tuhan kartena ini sudah keluar dari jalur TAHUID.
    Tuhan dan hamba itu tidak bercerai tidak bersekutu. Jauh tidak berjarak; dekat tidak berantara. Bukan menyatu, bukan bersatu, bukan melebur, melainkan esa, tunggal, padu, compact sejak mula makluk itu diciptakan.

    Mari kita pegang tahuid yg benar karena kita yg beragama islam adalah umat muhammmad yaitu umat yg dimuliakan, umat yg dimuliakan.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid.

    ________________________

    wa’alaikum salam wr.wb.

    ya..ya .. thx mas sayyid. anda tambah mengingatkan saya untuk tidak mudah menyalahkan orang lain.

  24. Blog lama berwajah baru.
    Dibaca-baca makin seru.
    Yang “sedikit” itu, hh

    Dulu aku daging
    Nanti aku roh
    Kini aku jiwa

    Roh itu penurut karena dia kuat.
    Tubuh itu penuntut dia karena lemah.
    Jiwa itu pemecut, kpd mana dia dominan.

    Mungkin roh itu ada tiga (sedikit), hh!
    Yaitu: Roh ku, Roh Kudus, dan Roh tak kudus.
    Taulah kita Sobat!
    Kemana roh ku harus manunggal
    Jk ingin berkehidupan dlm Tuhan?
    Semoga kita tau!

    Salam Damai!

    NB:
    Blog ini tak pernah masuk ke dlm menu “My Command”
    Kenapa, ya!
    Tq.

    —————

    salam damai mas Maren ..

    “sedikit” tapi tidak bermakna “say hello” .. tapi banyak uraian yang kuharapkan hingga bisa sebagai pelajaran, setidaknya sebagai tambahan.

    “rohku – nyawaku – sukmaku – rasaku”
    rohe allah – nyawane allah – sukmane allah – rasane allah.

    hanya pengalaman perjuangan bathin yang merasakan dan yang bisa menginjak ketingkatan demi tingkatan. ungkapan rahasia yang dituangkan dalam sebuah syair dan atau definisi tidak akan pernah dapat membuat diluar diri mengerti.

    semuanya dalam “ilmu dan kekuasaan-Nya”. setelahnya kita tau maka kita tidak akan bisa menghindar dalam titah-Nya. sebagaimana tertuang dalam Alqur’an : “…. datanglah kamu kepada-Ku dalam keadaan suka atau tidak suka ..”.

    semuanya memang milik-Nya dan memang akan kembali kepada-Nya. namun kita tidak seperti makhluq lain-Nya. ke”sempurna”an yang diberikan-Nya membuat hidup tetap memiliki makna dalam rahasia-Nya, sehingga tidak selesai “kembali” lepas begitu saja.

    semuanya ter”hitung” jika setelahnya selesai. semuanya adalah mahkota rahasia .. sebagaimana dalam Alqur’an : … bahwa para malaikatpun tidak mengerti hingga bertanya .. mengapa “manusia” dijadikan “khalifah” sedang ia banyak menciptakan pertumpahan darah … . allah berfirman “susungguhnya kamu sekalian tidak mengetahui apa-apa yang aku ketahui” .

    mudah2an kita tidak sering lupa bahwa segalanya kita hanya tinggal m-e-m-a-k-a-i bukan memiliki.

    salam kangen mas Maren.
    terma kasih banyak dengan nasehatnya.

    nb:
    saya belum bisa menjelaskan ttg keberadaan “my command” tapi bisa jadi setting di wordpress sy atau anda.

    saya cantumkan link anda di baris “pendukung” (i hope u do not mind).

  25. Salam Mas JK!
    Terimakasih atas segalanya.
    Sedikit demi sedikit = bukit, hh!

    Aku seperasaan dgn ini:
    “sesungguhnya Ruh itulah yang menyebabkan orang itu hidup dan berfikir dan memiliki perasaan (sense), tubuh yang bergerak dan tumbuh, berfikir dan berakal. Semuanya itu karena adanya Ruh

    Hanya kata hidup yg banyak diartikan keliru,
    Sesuatu yg menggunjal dikit dikata hidup,
    Listrik mati maka lampu tak hidup, etc.

    Mungkin kata berkehidupan lebih cocok di situ, paralel dgn kata berfikir, berperasaan, dan perkenaan lainnya. Tapi utk bergerak, bertumbuh, dan berakal, rasanya bukan domain ruh. Entahlah, Je! Mungkin aku baru mengkontraskannya dgn gerak tumbuh dan akal hewan.

    Salam Damai!

    ————————

    berpikir seperti itu wajar om maren … dan karena sayapun tidak bisa membuat ilustrasi-ilustrasi untuk menerangkannya. karena ilustrasi akal pasti ada kelemahannya, dan nantinya pasti ada yang menyanggahnya pula. “kalau begini bagaimana ? … kalau begitu lantas gimana ? .. dstnya. ” …

    saya tidak ingin terjebak dengan sang buah pikiran. karena seting pikiran kita ada “batas”nya. dan kalau saya mengikutinya maka kita akan terjebak pula.

    u/ itu harus ada sumber yang me”nerang”kan. sumber yang berisikan “ilmu” dari sang maha sumber yakni dari Yang Maha Tahu. dan itu setiap orang pasti punya. itulah IMAN. kalau boleh saya bilang bahwa IMAN secara tidak langsung adalah sebuah pengakuan bahwa kita menyadari sang buah pikiran memang memiliki keterbatasan.

    dan agar pikiran kita tidak mandeg (perancis 😀 ) maka kita harus menyesuaikan dari “ilmu” yang Maha Tahu itu. artinya mau atau tidak kita harus berIMAN.

    jadi ganjalan anda mengenai “Tapi utk bergerak, bertumbuh, dan berakal, rasanya bukan domain ruh” adalah ilustrasinya sama halnya seperti anda mengendarai sebuah sepeda motor. dan motor itu berbisik pada anda : “tanpa andapun saya bisa berjalan sendiri ko’ !” kira2 begono. :))

    itu dulu ya om maren. mdh2an ada teman yang lain bisa memberikan wejangan2an yang seger dan menjadi jalan.

    m@sJK.

  26. berpikir seperti itu wajar om maren … dan karena sayapun tidak bisa membuat ilustrasi-ilustrasi untuk menerangkannya. karena ilustrasi akal pasti ada kelemahannya, dan nantinya pasti ada yang menyanggahnya pula. “kalau begini bagaimana ? … kalau begitu lantas gimana ? .. dstnya. ” …

    Hehehe!
    Tak apalah!
    Dari pada lantas-lantas.

    Memang sudah seharusnya begitu, kali,
    Bertanya pd diri mencari jawab pd Yg Illahi,
    Supaya pikiran kelihatan hidup, menggunjal.

    Ujilah segala sesuatu,
    Ambil yg baik-baiknya saja.
    Itulah saran kita.

    saya tidak ingin terjebak dengan sang buah pikiran.

    Buah pikir itulah akal, kali. Mas.
    Hal yg belum ada dlm himpunan pikir
    Hal itulah yg perlu dipikir utk dihimpun.

    karena seting pikiran kita ada “batas”nya.
    dan kalau saya mengikutinya maka kita akan terjebak pula.

    Konon otak kita baru 10% yg diketahui fungsinya. Jadi kita masih punya banyak pengharapan utk bisa mengetahui yg belum, seperti halnya Roh (2) ini misalnya. Pikiran kita masih terbatas pd benda-benda, ya, utamanya benda-benda kongkrit. Nah, sedangkan roh bukan benda, jadi masih ribet utk dipikir secara terbatas..

    u/ itu harus ada sumber yang me”nerang”kan. sumber yang berisikan “ilmu” dari sang maha sumber yakni dari Yang Maha Tahu. dan itu setiap orang pasti punya.

    Yes!
    Setiap orang punya Yg Maha Tahu.
    Bagaikan Server atau Providernya.

    Sumber pengetahuan itu ada pd Tuhan
    Sumber peng-soktahuan ada pd Setan
    Roh kita sbg wifi ke salah satu Provider itu.

    Spt kukatakan di atas, roh itu keknya ada tiga,
    Rohku, Roh Kudus dan Roh tak Kudus.
    Rohku itu bagai utk “hyperlink” di situ.

    Entengnya,
    — Bila mata kututup rapat
    — Dan telinga juga ku tutup rapat.
    — Dlm kepala banyak gambar suara ribut.

    Simpelnya,
    — Ada tiga gambar suara dlm kepalaku.
    — Suara duniaku, suara dunia Tuhan, atau suara dunia Setan,
    — Suara-suara itu adalah energy, energy itu kekal, bervibrasi.

    Ya!
    Lama-lama kita bakal bisa dan terbiasa mengujinya,
    Dan lalu mengambil yg baik-baiknya saja.

    itulah IMAN. kalau boleh saya bilang bahwa IMAN secara tidak langsung adalah sebuah pengakuan bahwa kita menyadari sang buah pikiran memang memiliki keterbatasan.
    dan agar pikiran kita tidak mandeg (perancis ) maka kita harus menyesuaikan dari “ilmu” yang Maha Tahu itu. artinya mau atau tidak kita harus berIMAN.

    Aku punya pola pikir tiga,
    Utk memikirkan iman, gini:

    Iman itu adalah pikir-satu.
    Pikir satu adalah keharusan, no other way, no choice
    Seumpama harus berpasrah, mati langkah, pokok’e, dll.

    Keharusan berarti tidak ada pilihan,
    Tidak ada pilihan berarti mati,
    Mati itu adalah keharusan.

    Pengharapan adalah pikir-dua
    Pikir dua ttg keberadaan, keseimbangan,
    Seperti ada dan tiada, harmoni yang abadi:

    Ada Timur ada Barat,
    Ada Terang ada Gelap,
    Ada Neraka ada Surga, dst.

    Kehidupan adalah pikir-tiga.
    Pikir tiga, adalah kehidupan dinamis bertautan,
    Kehidupan bertaut alam, manusia dan Tuhan:

    Bila engkau mengasihi ku
    Maka Tuhan mengasihimu.

    Bila aku mengasihi org yg mengasihiku
    Ini namanya “Lunas!”, bukan kasih, hehe.

    jadi ganjalan anda mengenai “Tapi utk bergerak, bertumbuh, dan berakal, rasanya bukan domain ruh” adalah ilustrasinya sama halnya seperti anda mengendarai sebuah sepeda motor. dan motor itu berbisik pada anda : “tanpa andapun saya bisa berjalan sendiri ko’ !” kira2 begono. )

    Ya ya ya!
    Aku terlalu memilah tubuh, jiwa dan roh.
    Sebenarany mereka itu suatu tertiga,
    Dari osilasinya bisa banyak istilah-istilah.

    Sorry!
    Itu pengaruh pola pikir tiga.

    itu dulu ya om maren. mdh2an ada teman yang lain bisa memberikan wejangan2an yang seger dan menjadi jalan.
    m@sJK.

    Terma kasih, Mas JK
    Kita tunggau teman-teman lain
    Yg mengayakan atau memiskinkan

    Salam Pikir Tiga!

  27. Saya heran begitu banyak yang mengaku tahu dan merasaa tahu ataawa memahami mengenai RUH, padahal anda-anda hanya mengungkapkan fenomena dari yang anda anggap Ruh, kacian deh. Bukankah Allah telah mengatakan ” ruh adalahan urusanKu, tidak diberikan pengetahuan mengenai ruh meliankan hanya sedikit sekali ” mbok mikirin yang lain, mikirin negeri anda-anda ini lho. Itu saja trima kasih.

  28. Salam Mas JK

    Tentang roh.
    Ini sedikit lagi ancer-ancerku.
    Mungkin berguna, tak pun tak apa.

    Kita itu berada di tengah keberagaman itu,
    Keberagaman itu yg membuat kita terus berpikir.
    Pd keseragaman tak banyak yg perlu dipikirkan lagi,
    Semua kita menanggung konsekwensi pikiran masing2

    Kita itu senantiasa berada di tengah keberagaman itu,
    Berada tepat pd perpotongan tiga sumbu tertiga, x-y-z.
    Bahwa kita tak elok menolak ragam selain diri bergerak.

    Ecek geraknya,
    Pd X – dari kiri ke kanan, dari elek menjadi elok, ranah jiwa.
    Pd Y – dari tadi ke nanti, itu dari lahir lalu mati, ranah tubuh.
    Pd Z – dari bawah ke atas, dari materi ke rohani, ranah roh.

    Dari ttk nol itu kita terus bergerak bertumbuh berubah.
    Dan ttk nol itu selalu kini yg tak pernah nanti atau tadi.
    Itu hingga tammat! Jadi, berjaga-jagalah, usah ofensif.

    Dari ttk nol itu kita terus bergerak bertumbuh berubah.
    Baik seara alami, pun secara duniawi pun secara rohani
    Menjadi bertambah baik, bertambah benar dan merdeka

    Kau boleh gunakan terang menjadi warna-warni,
    Aku boleh saja gunakan warna-warni menjadi terang,
    Sing penting gunannya bertambah di ranah x,y,z positip.

    Di sini ada sedikit diskusinya,
    Dan disanggah sedikit oleh Fanya,
    Entahlah, apa x,y,z itu ibarat sumbu t1, t2, t3.
    http://hbis.wordpress.com/2009/01/29/biografi-ulil-abshar-abdhalla-koordinator-jaringan-islam-liberal/#comment-7857

    Salam Damai!

  29. Salam Mas JK

    Lama tak ke sini.
    Membicarakan yg sedikit itu.
    Berikut rekaanku ttg nyawa dan “aruwah”
    Ya, aruwah, bukan arwah, agar beda dgn nyawa.

    Pd Agustus 25, 2015
    Ada pernyataan:”Setiap yg bernyawa pasti mati”.
    Lalu pertanyaanku: “Apakah nyawa bisa mati?”

    Kesimpulan sementara ada pd Maren Kitatau
    September 6, 2013 pada 23:26
    Sbb:

    (sambungan …)
    To fanya cinthya –
    September 3, 2013 pada 22:40

    1Tes.5:23
    Semoga damai sejahtera Allah menguduskan kita semua
    Dan semoga roh, jiwa dan tubuh kita terpelihara sempurna
    dgn tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

    Dan semoga pengetian hidup secara umum di atas masuk akal.
    Hidup yg lebih jauh dan abadi adalah hidup kelal yg melampaui akal.
    Yaitu hidup yg terus menerus berinteraksi dgn Tuhan selamanya.

    Ttg nyawa dan aruwah itu, simpelnya masih spt dulu2.
    Nyawa ialah interaksi roh dan jiwa atau roh berjiwa
    Aruwah interaksi jiwa dan roh atau jiwa ber-roh.

    Tak ada interaksi jika sendirian.
    Seperti bangkai itu ialah mati.
    Ia kembali ke benua bawah.

    Ya, tubuh ini dari benua bawah,
    Jiwa kita dari benua tengah
    Roh itu dari benua atas.

    Roh berjiwa itu duduk manis,
    Jiwa berroh itu gentayangan,
    Itu ancer-ancerku saja koq.

    Ibr.4:12
    Firman Allah itu hidup dan kuat dan lebih tajam dp pedang bermata dua manapun;
    Ia menusuk amat dlm sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum;
    Ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

    Menusuk amat dlm lebih tajam dari silet itu aku paham.
    Yg aku belum paham blas adalah apa yg dimaksud dgn:
    “Firman Allah itu mampu memisahkan jiwa dan roh”,
    Utk menjadi sendirian?

    Mat.10:28
    Tak usah takut kpd yg bisa membunuh tubuh,
    Tapi tidak berkuasa membunuh jiwa;
    Takutlah kpd Dia yg berkuasa membinasakan
    Baik jiwa maupun tubuhdi dalam neraka.

    Lalu kepahaman kita, roh-nya org itu bagaimana,
    Pan, hanya jiwa dan tubuh yg dibinasakan di neraka?

    Mungkinkah nanti aruwah itu
    jiwanya dipisahkan dari roh-nya,
    Jiwa-nya itu yg akan dimusnahkan,
    tapi rohnya kembali kepada-Nya?

    Apakah kpd nyawa tak dipisahkan seperti itu,
    Sehingga roh dan jiwa-nya kembali kpd-Nya?

    Bagi kita hal ini belum perlu.
    Dan masih sulit utk “yes” or “no”.
    Kali ada yg mau coba share-ancer2?

    Mat.10:39
    Barangsiapa mempertahankan nyawanya,
    ia akan kehilangan nyawanya
    dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
    ia akan memperolehnya.

    Akan kehilangan nyawanya …?
    Jika jiwa terpisah dari roh
    berarti nyawa itu hilang,
    tak berinteraksi lagi.

    Jika jiwa dan roh tetap utuh dan bersesuaian,
    berarti ia akan memperolehnya.

    Jadi jiwa ini penentu hidup kita ke kesempurnaan,
    Sempurna ke keinginan daging atau ke keinginan roh.
    Sempurna spt anak-anak Tuhan atau spt anakh2 Setan.

    Misal kasus:
    Satu orang mati bertaruh nyawa rebutan wanita idola,
    Satu lagi mati karna menuhankan Yesus,dibunuh massa.

    Yg satu jiwanya akan dipisah dr roh dan dibinasakan,
    Ini kali yg disebut dgn “akan kehilangan nyawanya”.
    Sementara roh-nya saja yg kembali kpd Tuhan.

    Yg lain roh dan jiwanya diterima di pangkuan-Nya,
    Ini kali yg dimaksud akan memperolehnya kembali.
    Nyawa itu dipaskan pd tubuh baru, tubuh rohani.

    Mat.16:26
    Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia
    tetapi kehilangan nyawanya?
    Dan apa yg dpt diberikannya sbg ganti nyawanya?

    Keknya yg ini sudah rada klir,
    Kehilangannya tak kudu diancer lagi,.
    Nyawanya hilang jiika jiwanya dibinasakan.

    Pamungkasnya, Mat.27:50
    Yesus berseru pula dengan suara nyaring
    lalu menyerahkan nyawa-Nya.

    Atau, Markus 15:37
    Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring
    dan menyerahkan nyawa-Nya.

    Atau Lukas 23:46
    Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring:
    “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
    Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

    Jelas, bukan barang mati yg akan kita serahkan kpd-Nya.
    Bukan korban bakaran atau pun kedasyatan amal soleh,
    Tapi diri kita yg hidup ini yg kita persembahan kpd-Nya.

    Itulah persembahan yg hidup,
    pun nyawa itu lah, yg kpd-Nya.
    Jagalah agar hidup kita bernyawa,
    bukan berarwah, ehm!

    Jadi, tergantung jiwa lah kesempurnaan kita itu.
    Jiwa yg berserah pd keinginan roh menjadi nyawa
    Jiwa yg serakah keinginan daging menjadi aruwah,hah.

    Dgn kata lain,
    Nyawa itu dari yg jiwanya berserah keinginan2 roh
    Aruwah itu dari yg jiwanya panasaran nikmat2 daging.

    Kembali ke awal:
    Setiap makhluk yg bernyawa pasti mati,
    Apakah nyawa pasti mati juga?

    Apa mahluk halus itu tak ada?
    Itu menjadi apa kata kita.
    Kata itu yg menjadikan.

    Keknya.
    Tanpa kata,
    Tak satu pun ada.

    In the begining was The Word
    And the Word was with God
    And the Word was God.

    Salam DamaI JK!
    http://tertiga.wordpress.com/tertiga-guide-tubuh-jiwa-roh/#comment-2383


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: