Skip navigation

Prakata

Berlepas diri dari pernyataan yang mengharamkan, memakruhkan dan atau  yang menghalalkan tentang pembahasan mengenai ruh.  Disini saya hanya berbagi referensi dari yang saya pernah lihat atau tahu selama ini.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa pengetahuan manusia dalam masalah “di luar alam nyata” (dalam istilah popoulernya Metafisika) terbatas, namun kita bisa mengetahui hal tersebut lewat penjelasan al-Qur’an dan Sunah Nabi kita. Memang ada sebagian kebanyakan ahli filsafat yang membahas ruh demikian jauh, sehingga mereka berkeyakinan bahwa ruh itu kekal.

Berangkat dari itu semua, bahwa ruh juga adalah masalah penting yang harus kita ketahui, dan inilah tujuan ditulisnya pembahas tentang ruh,  insya allah agar menambah pemahaman atau setidaknya yang mengingatkan, alhasil tulisan ini semoga dapat menjadi bahan bacaan yang dapat membantu atau hanya sekedar bacaan iseng atau mungkin sekedar jadi bacaan cibiran saja pun itu tak apa.

Ada ungkapan yang cukup bijak bahwa “Para Nabi dan Ulama banyak berbicara tentang Allah Swt, mulai dari sifat-sifat-Nya, Asma al-Husna-Nya, lalu membahas tentang wujud, wahdaniat, kalam al-Ilahi dan sebagainya, dan kita tidak mendengar seorang pun yang mengharamkan untuk membahasnya ataupun memakruhkannya.   Lantas  apakah RUH lebih tinggi kedudukannya ?, sehingga menjadi haram untuk di bahas  ? “…  [saya serahkan pada kawan].

RUH

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”  [al-Isra’ : 85]

Ruh adalah bagian dari hal ghaib, dan bisa dikatakan rahasia Allah Swt., serta manusia hanya memiliki sedikit pegetahuan tentang ruh, akan tetapi bukan berarti tidak boleh dalam membahasnya. Dalam membahasnya pun sudah barang tentu didasari oleh rasa ingin tahu, dan didasari oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Mengapa Allah merahasiakan Ruh dan mengaitkannya dengan Ruh-Nya, dan di dalam Alqur’an termasuk kelompok ayat-ayat mutasyabihat (makna yang dirahasiakan), karena pada ayat tersebut terdapat kalimat Ruh manusia adalah Ruh yang ditiupkan dari RUH-KU (Min ruuhii) arti harfiahnya adalah Ruh milik Allah. Akan tetapi para mufassir menterjemahkan Ruh ciptaan Allah. Kita jangan terburu-buru menafsirkan karena dari segi tata bahasa ayat ini termasuk kalimat muatasyabihat, sebab Allah sendiri melarang meraba-raba atau mereka-reka seperti apa ruh itu kecuali hanya bisa merasakan bahwa di dalam diri ini ada yang melihat (bashirah) setiap gerak-gerik jiwa dan pikiran serta perasaan kita. Dan bashirah bersifat fitrah (suci) karena ia selalu bersama dan mengikuti amr-amr (perintah) Tuhannya.

“Maka apabila telah Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr,29)

Ruh adalah rahasia Tuhan yang di tiupkan kepada nafs (jiwa atau badan). Ruh ini menyebut dirinya AKU, yang disebut bashirah (yang mengetahui atas jiwa, qalb, fisik dll. – lihat tafsir Shafwatut Attafaasir surat Al-qiayamah : 14 )

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (nafs). Di dalam nafs (diri) manusia ada yang selalu tahu, yaitu Aku. Yaitu Ruh manusia yang menjadi saksi atas segala apa yang dilakukan nafsinya (diri). Ia mengetahui kebohongan dirinya (nafs), kemunafikan, rasa angkuhnya, dan rasa kebencian hatinya. Karena itu sang ruh disebut min Amri rabbi – selalu mendapatkan intruksi-instruksi Tuhan-Ku. Mengapa demikian, – karena ia tidak pernah mengikuti kehendak nafsu dan tidak pernah menyetujuinya tanpa kompromi sedikitpun. Ialah disebut fitrah yang suci, dan fitrah manusia selalu seiring dengan fitrah Allah (QS. Ar Rum:30)

Jadi jika manusia mengikuti fitrahnya, maka ia akan selalu mengikuti kehendak ilahy.

Sekarang kita mencari pengertian tentang An Nafs

Nafs mempunyai beberapa makna :

Pertama, An Nafs yang berkaitan dan tumpuan syahwat atau hawa [hawa berasal dari bahasa Arab yang tercantum dalam Alqur’an, wanaha An nafsa ‘anil hawa – dan ia menahan dirinya (fisiknya) dari keinginannya (hawanya) ]( An Nazi’at :40-41). Yaitu hawanya ; mata, telinga, mulut, kemaluan, otak dll. Hawa-hawa atau syahwat, selalu berkecenderungan kepada asal kejadiannya yaitu sari pati tanah – dengan demikian An nafs berarti fisik (tanah yang diberi bentuk). Dia akan bergerak secara naluri mencari bahan-bahan materi asal fisiknya, ketika kekurangan energi atau kekurangan unsur-unsur asalnya maka ia akan segera mencari atau secara naluri ia akan berkata, saya lapar, saya haus !.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari ekstrak yang berasal dari tanah.” (QS. Al Mukminun:12)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur (berbentuk), maka apabila Aku telah meniupkan kepadanya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” [QS. Al Hijir: 28-29]

An nafs arti Fisik yang mempunyai bahan dari ekstrak tanah yang mempunyai bentuk .

Kedua, An Nafs berarti : Jiwa, – jiwa mempunyai beberapa sifat, nafs lawwamah (pencela), nafs muthmainnah (tenang), Nafs Ammarah bissu’ (senantiasa menyuruh berbuat jahat).

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah ….. [QS. Al Fajr : 27-28]

Wala uqsimu binnafsil lawwamah … [QS. Al Qiyamah:2]

Wama ubarriu nafsii, innannafsa laammaratun bissuu’ [QS. Yusuf:53]

Sedangkan Qalb, artinya sifat jiwa yang berubah-ubah, tidak tetap. Terkadang ia bersifat muthmainnah, kadang juga lawwamah, atau berubah menjadi ammarah bissuu’

Watak seperti inilah yang dimaksud dengan QALB (berbolak-balik), jadi keliru kalau dikatakan qalb itu adalah wujud karena dia bukan jiwa, akan tetapi merupakan sifatnya jiwa yang selalu berubah-rubah. Jiwa yang mempunyai sifat berubah-rubah inilah, dinamakan Qalbun !! sedangkan jiwa yang selamat disebut Qalbun salim (selamat dari sifat yang berubah-rubah) – illa man atallaha biqalbin saliim – kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (QS. Asy Syura: 89)

An nafs (jiwa) memiliki alat-alat, Pikiran, Perasaan, Intuisi, Emosi, dan Akal. Sedangkan An Nafs (fisik) memiliki alat-alat : Penglihatan (mata), Pendengaran (telinga), Perasa (lidah), Peraba, Penciuman (hidung).

merasa tanggung ? ikuti terus seri kedua [2] nya karena dijamin lebih seru dan greng    :mrgreen:

%d blogger menyukai ini: