Skip navigation

Tidak sedikit yang menentang adanya istilah SUFI. SUFI dianggap sebagai bid’ah, tidak ada dalam kehidupan rosulullah saw, sebagai ajaran yang mengada-ada dalam melaksanakan aturan ibadah dlsbnya.

Saya tidak membahas itu, tapi lebih suka menjelaskan tentang keberadaan SUFI pada sekarang ini. SUFI adalah seseorang yang mendalami tentang ajaran TASAWUF, yang penekanannya adalah “bagaimana mensucikan qalbu” dengan maksud sampai kepada tatanan “wahai jiwa-jiwa yang tenang datanglah kamu kepada-KU“.  Untuk mendapatkan kearah situ maka seseorang yang mempelajari TASAWUF (SUFI) berpendapat bahwa diri haruslah dilatih, guna memperoleh tanjakan-tanjakan bathin menuju kearah maqam TAWAKAL (penyerahan diri secara total kepada ALLAH), itulah semurni-murninya TAUHID.

Perkembangan SUFI

Ketika Islam berjaya dan Rasulullah saw telah wafat, begitu juga satu persatu para sahabat dan khulafaur rasyidin pergi meninggalkan mereka, ada gejala kecenderungan hidup berfoya-foya, yang mana hidup berfoya-foya itu dinilai oleh ulama sebagai penyimpangan dari ajaran islam. Oleh kerana itu, sebahagian ulama berpendapat bahwa gerakan sufi sesungguhnya adalah gerakan pengembalian Islam secara benar.

Munculnya gerakan sufisme juga didorong oleh kehidupan beragama yang terlalu umum dan mengabaikan aspek batiniyah. Sepeninggal Rasulullah saw seluruh jazirah Arab telah menyatakan tunduk kepada pemerintahan Madinah. Tidak terlalu lama kemudian, daerah kekuasaan politik Islam berkembang dengan cepat, meluas sampai meliputi daerah yang terbentang dari sungai Nil di bagian barat dan sungai Oxus di timur.

Ketika itu umat Islam di Madinah benar-benar berjaya dengan luar biasa. Berjaya di bidang politik dan ketenteraan ternyata membawa berbagai akibat yang sangat luas. Salah satunya adalah sistem hukum sebagai salah satu alat untuk pengatur masyarakat. Aturan hukum yang kemudian dikenal dengan istilah fiqh. Lama-kelamaan istilah figh kemudian menjadi sentral dalam pemikiran agama. Dengan begitu, seringkali agama dikenali sebagai fiqh. Kerana yang demikian itu, maka pandangan terhadap keIslaman seseorang hanya diukur bersadarkan kepatuhannya terhadap aturan fiqh.

Padahal, istilah fiqh mengandung makna asli pemahaman mendalam yang dikenal dengan syari’ah, yang secara bahasa berarti jalan menuju sumber air. Pada mulanya istilah syari’ah digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjuk pada suatu konsep yang luas mencakup kebenaran spiritual sufi (hakikat), kebenaran akal pada filosof dan teologi, serta kebenaran hukum (fiqh).

Selain hal tersebut, negara yang dibentuk oleh tatanan Islam di Madinah sangat memerlukan fiqh (hukum) karena seringkali terancam oleh berbagai tindak pembunuhan dan kekacauan. Negara tidak saja mengunakan ketertiban dan keamanan, tetapi juga kepastian hukum. Dalam keadaan seperti ini, kesalehan seseorang dalam beragama diukur berdasarkan kepatuhan terhadap hukum (fiqh). Konsep yang berkembang seperti ini perlahan-lahan membawa seseorang memahami agama sebatas aspek lahiriah saja (tinglah laku saja). Kemudian mengabaikan hal-hal yang berkenaan dengan batiniah (spiritual). Keadaan yang demikian inilah oleh golongan sufi dianggap sebagai pengamalan agama sebatas pada luaran saja, pengamalan agama yang hanya mengutamakan segi tingkah laku dan lahiriah.

Orang-orang yang cenderung kepada fiqh yang berpusat pada masalah-masalah fiqiyah menyebut dirinya sebagai faham keagamaan (fiqh) dan jalan yang benar (syari’ah). Sedangkan sufi (yang sering dikenal dengan sebutan orang-orang zuhud) yang berorientasi pada pengamalaman spiritual juga mengatakan bahwa dirinya sebagai pengetahuan (ma’rifah) dan jalan menuju kebahagiaan (tariqah).

Sesungguhnya faham sufi (sufisme) itu berkembang dari waktu ke waktu mengikuti keadaan zaman. Sejak zaman Rasulullah saw hingga sekarang, banyak diwarnai dengan keragaman. Adapun keragaman tersebut muncul dalam beberapa tahapan perkembangan.

Sebahagian ulama berpendapat, ayat-ayat Al-Qur’an yang turun di Mekkah -ayat Makkiyah- sudah menekankan betapa pentingnya kerohanian, dalam kaitannya tentang perjalanan kenabian dan tentang wahyu. Dikisahkan pengalaman kerohanian kenabian yang dilalui Rasulullah saw (dikenal dengan Isra’ Mi’raj), misalnya :

“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?” (QS. An Najm 1-12)

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Isra’ 1)

Sebagian ulama filosof mengatakan, bahawa pengalaman isra’ mi’raj Nabi lebih kepada pengalaman kerohanian. Para yang mendapat cerita tentang isra’ mi’raj langsung menerima dan mereka tidak bertanya mengenai pengalaman-pengalaman tersebut. Ada sejumlah alasan mengapa demikian, kerana mereka dilatih untuk suatu tujuan moral atas dasar keagamaan. Lagi pula aktiviti mereka telah membuat mereka cenderung untuk tidak bertanya-tanya tentang rahsia metafisik itu. Kedua, mereka menganggap bahawa pengalaman-pengalaman kerohanian Nabi saw tersebut merupakan ciri khas seorang rasul atau utusan Tuhan. Sedangkan kewajiban mereka hanya mengimani dan melaksanakan apa yang diyakininya itu.

Dalam masa ini, Rasulullah saw menanamkan kepada umatnya walaupun pada tingkatan yang berbeda, suatu keyakinan tentang ketuhanan, keesaanNya, ke maha kuasaanNya, serta perasaan mendalam pada pertanggungjawaban dihadapan pengadilan Tuhan menyangkut perilaku selama di dunia.

Ajaran Rasulullah ini mendapat sambutan yang mendalam oleh para sahabat, terutama yang sangat dikenal adalah Abu Dzar Al Ghiffari. Dimana sepeninggal Rasulullah, Abu Dzar merupakan tokoh penting yang dikenal kesalehannya dimata penduduk Madinah. Kesalehan Abu Dzar inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi perkembangan zuhud (sufi) dua abad pertama Hijriyah.

Pada perkembangan berikutnya, kesalehan beragama secara kerohanian ini muncul dalam bentuk kehidupan zuhud. Kemunculan kehidupan zuhud dipengaruhi oleh keadaan umat islam disaat itu yang tenggelam dalam menikmati kemewahan duniawi. Kemewahan duniawi itu dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintahan Islam dalam mengembangkan politik dan ketenteraan hingga ke seluruh jazirah Arabia.

Menurut sebahagian ulama, kehidupan zuhud semata-mata merupakan reaksi terhadap kehidupan sekular dan sikap penguasa Dinasti Umayyah yang dianggap kurang keagamaan. Artinya, Dinasti Umyyah telah meninggalkan kesalehan dan kesederhanaan hidup sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat empat.

Dua abad sesudah hijriyah, kemudian bermunculan tokoh-tokoh (ulama) zuhud mengembangkan konsep spiritual (batiniah) dalam beribadah disamping konsep syariat. Lalu muncullah istilah sufisme (gerakan sufi) sebagai protes terhadap kehidupan umat Islam yang dianggap kurang mengamalkan Islam kerana tenggelam dalam kemewahan duniawi. Diantara dari para ulama zuhud itu, salah satu yang sangat terkenal adalah Hasan al-Bashri. Pengaruh konsep ajarannya demikian kuat selama berabad-abad.

Setelah itu, tradisi hidup sufi dikenal sebagai cara tertentu. Pada masa itu konsep ulama zuhud yang sangat popular adalah pemahaman tentang tawakkal (berserah diri kepada Tuhan). Kemudian berubah menjadi doktrin-doktrin yang sangat mencolok. Mereka menempuh jalan sufi dengan menyerahkan diri secara keseluruhan kepada Allah.

Dari sini kemudian muncul ulama-ulama sufi besar seperti Malik bin Dinar, Ibrahim bin Adham, Rabi’ah al Adhawiyah dan masih banyak lagi.

Kencenderungan pengaruh ajaran sufi pada saat itu misalnya dapat dijumpai dalam cerita tentang bagaimana Malik bin Dinar mencari nafkah (rezeki).

Malik bin Dinar memilih hanya memiliki sebidang tanah. Dimana, sebidang tanah itu dia mengusahakan kehidupan tanpa menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sementara Wasi’ lebih menyukai menjadi orang yang jika makan tidak peduli dari mana dia akan memperoleh makanan lagi nanti.

Ciri khas gerakan pada masa itu hanyalah pada zuhud dan rajin beribadah yang bertujuan untuk membersihkan jiwa secara lahir bathin. Belum ada teori-teori khusus yang menonjol.

Dan pada abad ketiga hijriyah, muncul ulama-ulama besar dalam tradisi sufi, diantaranya ialah Al Muhasibi, Dzun Nun Al Misri, Abu Yazid al Bistami, Junaid Al Baghdadi dan Abu Manshur al Halajj.

Ulama-ulama sufi tersebut menggunakan kebiasaan (tradisi) berfikir yang berkembang pada masa itu. Dzun Nun Al Misri memiliki konsep sufi yang dikenal “al ma’rifah” (pengetahuan). Abu Yazid al Bistami merumuskan konsep yang disebutnya “Al Ittihad (penyatuan hamba dengan Tuhan). Adapun Abu Manshur al Hallaj yang dikenal dengan Al Hallaj merumuskan konsep yang disebut “Al Hulul” “(Tuhan mengambil tempat dalam diri seseorang).

Sesungguhnya konsep-konsep tersebut semula tidak dikenal dalam Islam. Konsep tersebut hanyalah pengaruh dari beberapa tradisi pemikiran yang ada. Namun dengan konsep tersebut, para sufi meyakini boleh memperoleh pengetahuan tidak dengan alat indrawi atau akal sebagaimana yang ditempuh oleh para filsof dan teologi, melainkan dengan hati dan perasaan.

Permasalahan antara Sufi dan Fiqh

Pada perkembangan berikutnya, konsep sufisme tersebut kemudian menimbulkan konflik tajam antara tradisi fiqh dengan tradisi sufisme. Para elit birokrat dan ulama-ulama (fiqh) melarang ajaran sufi kerana dianggap sebagai bukan ajaran agama Islam. Pemikiran dan ajaran “Ittihad” dan “hulul” menjadi sasaran kritik. Dianggap sebagai ajaran sesat oleh ulama-ulama yang cenderung kepada tradisi fiqh. Bahkan konflik tersebut pada ujungnya meminta korban nyawa Al Halajj. Kita tahu bahawa Al Halajj dianggap telah menyimpang dari ajaran islam (fiqh) kemudian dihukum oleh penguasa Baghdad pada tahun 922 Hijriyah. Hal itu kerana pernyataan Al Halajj sendiri “Ana al-haq” (Aku adalah Tuhan). Inilah yang semakin memancing emosional ulama dan penguasa sehingga Al Halajj berikut konsep ajarannya harus dimusnahkan.

Pasca tragedi Al Halajj, maka para ulama fiqh menjaga jarak dengan ulama sufi. Ulama fiqh menilai bahawa ulama sufi semakin liar, baik dalam ajaran mahupun dalam cara ibadahnya.

Oleh kerana antara keduanya berkonflik dan menjaga jarak, maka muncullah ulama-ulama yang berusaha menjadi penengah dan mendamaikan dua aliran keilmuan itu. Ada nama-nama besar yang menciptakan karya tulis dengan tujuan mencari titik temu antara kedua aliran itu. Di antaranya ialah al Sarrajj menulis kitab “Al Luma'”, al Kalabadzi dengan kitabnya “al-Ta’arruf li Madzab Ahl Al Tashawwuf”, dan Imam Qusyairy dengan kitabnya “al-Risalah fi ilm al-Tashawwuf”.

Bersamaan dengan itu, muncul konsep tentang perjalanan sufi dalam mencapai tingkat ma’rifatullah. Konsep itu kemudian dikenal dengan istilah “maqamat” dan “ahwal“.

Halaqah dan Tradisi Pembacaan Zikir

Konsep ajaran maqamat dan ahwal mendapat sambutan dari ahli sufi. Perlahan-lahan terbentuklah suatu kelompok atau organisasi. Kelompok tersebut sebagai media pertemuan dalam rangka majlis ilmu. Didalamnya terdapat diskusi-diskusi yang membicarakan tentang bentuk-bentuk ibadat, bentuk latihan spiritual yang disebut halaqah. Kemudian berkembang lagi dengan adanya acara tradisi pembacaan zikir. Ketika itu pembacaan zikir dilakukan dimana saja, termasuk di surau atau di masjid.

Tradisi pembacaan zikir dan halaqah kemudian menjadi seragam. Lalu muncullah bentuk tariqah (jalan spiritual sufi). Semakin lama kelompok ini semakin sempurna sehingga ulama sufi yang dijadikan sebagai guru dinobatkan menjadi pemimpin. Kelompok mereka pun diberi nama. Anggota-anggotanya dibai’at. Bahkan merumuskan zikir dan silsilah yang diyakini sampai kepada sahabat Nabi saw. Sufi yang mula hanya sebagai amalan orang perseorangan (individual) kini berkembang menjadi sebuah organisasi. Pergerakan sufi yang sangat pesat, sehingga menurut tarikh, sejak abad 12 masehi, islam didominasi oleh tarikat, yang sangat berperanan dalam kehidupan sosial dan politik.

Kemudian muncullah ulama besar yang bernama Abu Hamid Al Ghazali yang sangat dikenal dengan sebutan Imam Ghazali. Dimana, Imam Ghazali menyusun kitab tasawuf yang sangat terkenal yaitu Ihya Ulumudin. Imam Ghazali sangat besar sumbangnya terhadap perkembangan sufi di dunia.

Sepeninggal Imam Ghazali, lalu tampil seorang ulama besar bernama Abdul Qadir Al Jailani. Ia dikenal sebagai pendiri tarikat Qadariah dan mulai menyiarkan ajarannya di wilayah Baghdad. Disusul Tarikat Maulawiyah yang dipimpin oleh Jalal al-Din al-Rumi. Sementara Syekh Bahaudin Naqsabandy mendirikan tarikat Naqsabandiyah.

Wass.

6 Comments

  1. Info yang sangat bermanfaat…
    Memang dunia sufi hanya bisa dipahami oleh orang yang telah tenggelam di dalamnya karena dunia sufi adalah dunia spiritual dan disana hanya ada ‘RASA” dan “MERASAKAN”.
    Akan tetapi menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan kebenaran ajaran sufi agar bisa diterima secara luas.

    Ketika Tasawuf sebagai “API ISLAM” ditinggalkan oleh ummat Islam maka secara otomatis Islam tidak akan berpower karena Teknologi Al Qur’an yang memiliki energi yang Maha Dahsyat hanya bisa digali lewat Tasawuf.
    Dan ketika Tasawuf ditinggalkan dan dianggap bid’ah serta syirik maka yang muncul adalah Islam dengan wajah sangar, keras dan kaku.

    Benar sekali apa yang dikatakan oleh Imam Malik bahwa: “Bersyariat tanpa Tasawuf akan menjadi Fasik”

    Salam kenal dan terimakasih sudah mampir di Surau Sufi MUda dan mohon izin saya link blog ini ke sufimuda…
    ___________
    ya … merasakan. sperti halnya angin, angin itu ada tapi tak terlihat, tapi bisa dirasa kehadirannya (kira2 gt ilustrasinya). dan memang brsyariat bisa fasik tanpa tasawuf karena salah satunya bisa2 hanya menjadi “hamba hukum” bukan “hamba tuhan”. tapi jangan lupa tasawuf tanpa syariat, bisa juga berakibat zindiq. (qt lihat ahmadiyah terlalu “over dosis” tanpa disadari dia telah ber”tuhan” pada akal).

    skali lagi terima kasih, sudi mampir kesini, n saya juga minta izin untuk ngelink web anda.

    • ekapratiwi
    • Posted 28 Januari 2009 at 9:00 am
    • Permalink

    SUFI JUGA MERUPAKAN SEBUAH KESENANGAN. yang penting kita menyadari bahwa kita masih menapak bumi yang berisikan bermacam-macam unsur.
    __________
    meskipun banyak yang mengatakan “sufi” adalah sesuatu yang bid’ah, sufi apapun namanya itu bukanlah pointnya tapi sekedar predikat. yang penting adalah “air”nya disauk dari al-qur’an dan tarekatnya banyak diambil dari bagian “dalam” diri rosulullah. sufi sepertinya bukan sebuah kesenangan, tapi barangkali dunia ini yang seperti itu. sebagaimana di abadikan di dlm alqur’an “[..] tiadalah kehidupan didunia ini melainkan kesenangan yang menipu “

    • alihanifa
    • Posted 30 Januari 2009 at 9:17 am
    • Permalink

    “samakah orang melihat dengan orang yang buta?”
    _________
    kalau sama tidak mungkin ada sebutan melihat dan tidak melihat. meskipun kita melihat, tidaklah arif dapat dikatakan “melihat” jika tidak berusaha me”nuntun” yang tidak melihat … bukan begitu …. bang hanif 😀

    salam kenal bang hanif .

    • quantumillahi
    • Posted 20 Maret 2009 at 8:48 am
    • Permalink

    mas mhn ijin nampilkan tulisan tentang ” mengenai sufi” tak tampil lagi di weblog sy ya. www quantumillahi.wordpress.com
    ___________

    sepenuh hati … mudah2an membawa manfa’at

    • soffarjunaedi
    • Posted 28 Juli 2009 at 10:42 am
    • Permalink

    salam kenal, mampir ke blog sini

    • sayyid
    • Posted 18 September 2010 at 4:51 pm
    • Permalink

    Assalamualaikum wr.w,

    Saya diajak berbicara oleh Allah.
    saya mengajak Allah membaca alquran.
    saya mengajak para malaikat membaca alquran.
    saya mengajak para jin muslim membaca alquran.
    saya mengajak roh saya membaca Alquran.
    saya mengajak syeitan membaca alquran ternyata dia tidak dapat.

    bumi mengajak saya berbicara.
    matahari mengajak saya berbicara.
    hujan mengajak saya berbicara.
    binatang dan tanaman mengajak saya berbicara.
    hampir semua yg diridhoi oleh Allah mengajak saya berbicara.
    saya pun sudah diberi tahu bahwa kiamat sudah sangat dekat.
    banyaklah beribadah.

    saya hanya seorang hamba seperti hamba-hamba Allah yg lain.

    Wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: