Skip navigation

INGSUN, ALLAH, & KEMANUNGGALAN

“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.”

Pernyataan Syekh Siti Jenar di atas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”

Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.

Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera”

Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.

Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.

“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya?”

Sekalipun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.

Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.

Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.

Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.

Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah.

Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

“Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.”

“…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

“Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah”

Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.

Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.

37 Comments

  1. Salam kenaaaalll sepenuuuh bumi dan langit
    kerreeeen abiizzzz…

    Selamat Tahun Baru Hijrah
    1 Muharram 1430 H…
    Semoga kita Semuanya selalu dalam Rahmat dan Ridho-Nya semata…
    ___________
    Selamat Tahun Baru Hijriah … insya Allah qt semua dari hari ke hari senantiasa selalu mendapat kemajuan. amin.

  2. gue suka banget ama artikel yang kerennn banget blog yang cool…salam buat siti2 jenar yang lain…
    ____________
    sy juga demikian … artikel ini sy ambil dari salah satu sumber, karena isinya cukup sederhana tapi perlu kesabaran dalam penafsiran. kalau bang vickyry punya perjalanan SITI JENAR versi Agus Sunyoto …. sy sangat berharap dapat ikut baca … :-D

    • 51-374
    • Posted 31 Desember 2008 at 10:44 am
    • Permalink

    izin ya..minta artikel nya :D
    _________

    alhamdulillah … silahkan bang reza, salam kenal dan artikel inipun sy boleh ambil dari sumber lain (cuma lupa dimana) :-)

  3. Postingan yang bagus dan mencerahkan!
    Manshur Al-Halaj pernah berkata: “Hidup dan mati bagiku sama saja”
    Hidup sesudah mati harus dirasakan di dunia ini sebagaimana sabda Nabi, “matilah diri mu sebelum engkau mati”.
    Tanpa mengalami mati tidak akan mungkin bisa berjumpa dengan Al-Haq.
    Makasih ya udah mampir di sufimuda :-)
    ____________
    “mautu antal qobla maut” –> merasakan mati sebelum mati. mungkin mirip “tertutupnya sembilan babakan hawa songo” (wejangan wali). sekian detik … tapi manfa’atnya tidak bisa dilukiskan.

  4. Ass.
    nderek Mampir kang……..
    Kosong adalah isi,isi adalah kosong “Tomsamcong”
    Mati sakjroning urip supoyo biso urip sakjroning pati.
    khuburlah kehendakmu melebur (pasrah)dengan Qoda’ dan Qodar didalam pengapdianmu pada Allah Ta’ala.Supaya ruhaniah (ruh) dalam jasadmu hidup.setelah hidup berilah iya makan (dgn Dzikirullah)dan peliharah ia,agar berkembang dalam pengembaraanya supaya sampai ketujuan dengan ridhoNya.
    Semoga niatan yang baik dan keiklasan yang terpancar dari hati,menjadikan matahati yang tembuspandang.terbang ke haribaanNya.bermusahadah,bermujalasah,bersimpuh dipermadani singgasanaNya.Amin Amin yarobbal’alamin
    _____________
    alhamdulillah … insya allah .., saat ini masih dalam tahap riyadah … terima kasih. jd + semangat.

    • quantumillahi
    • Posted 11 Januari 2009 at 9:03 pm
    • Permalink

    salam kenal ya Mas
    setuju sekali
    “sedetik engkau fana itu lebih baik dari beramal seribu bulan”
    ________
    bukan main …. insya allah .., demikian kalau sudah mengerti hakekat lailatul qadar.

  5. Sugeng tepang mas, anu..nuwun sewu nggih badhe nderek ngangsu kaweruh.
    Abad ini Kanjeng SSJ rupanya sudah mulai wungon..
    ___________
    harapan pribadi begitu mas …. karena yang qt lihat mayoritas agama berperan tidak lebih hanya sebagai “pelengkap” saja. wejangan2 SSJ sesungguhnya sangat perlu di sebar luas, untuk memahami dan membangunkan kesadaran apa itu makna HIDUP.

    terima kasih kunjungannya. insya allah sy mampir ke rumah mas harjuno

    • ekapratiwi
    • Posted 28 Januari 2009 at 8:54 am
    • Permalink

    Benar adanya cerita SSJ tidak mati, buktinya masih banyak orang yang rindu ajaran SSJ. Hidup seperti cacing ditanah merah.
    MERDEKA…..

    • kangBoed
    • Posted 30 Januari 2009 at 8:26 am
    • Permalink

    Salam Kenal mas
    Setuju mas inilah dunia yang penuh kepalsuan barang baru, semua sejatinya tiada bohong semua alias dagelan, manusia berkehendak bebas tanda tanya besar ya… he he
    Kita sebenarnya dilengkapi satu piranti yang hanya kita sebagai manusia yang punya yaitu hati nurani, barang lama saking kelamaan dan usangnya hampir sebagian besar dari kita lupa bahwa kita mempunyainya dan mereka lupa hati nuranilah yang membuat kita sebagai manusia diberi kelebihan dari semua makhluk ciptaan Allah lainnya, dan ketika kelebihannya itu tak dipakai bahkan dilupakan maka terjadilah kerusakan tatanan kehidupan
    He he he sekedar menambahkan dari saya yang botol alias bodoh dan tolol, kok dari martabat pertama loncat mas ke martabat ke empat, dari alam Zat “inilah Gusti Kang Amurbeng Wisesa” langsung ke alam af’al mana mas alam sifat dan alam asmanya ma kasih mas biar penjelasannya lebih jelas buat kita semua mas, terus bicara judul khan tarekat SSJ tolong bagi bagi dong laku dan amalannya untuk pencerahan
    Salam Persahabatan
    _________
    qt ada baiknya jangan terikat dengan penamaan “istilah2″ dalam tanjak2an bathin. seperti halnya syari’at, tarekat, hakekat dan ma’rifat. sy lebih suka me”lakon”i dengan tauhid yang murni. artinya ada ungkapan bahwa “awwaluddin mima’rifatullah” [sebelum menghayati suatu agama kita harus ma’rifat dulu kepada allah]. hal ini dapat dicapai hanya dengan kesungguhan dalam hablumminallah secara pribadi [untuk memperoleh pencerahan]. “[…] jika ingin berjumpa dengan AKU maka hendaklah ia berbuat baik dan beramal soleh”.

    kang boed, qt sama2 hrs berbuat .. kalau qt telah mengenal SIFAT2NYA maka AKBARkan dalam kehidupan ini. yang ringan2 saja …. kalau diri ini ingin menjadi “tempat” (warongko) maka selaraskan perbuatan dengan af’al-NYA yang selalu penuh dengan kasih dan sayang [bismillah …] dgn kesungguhan sabar. barangkali sekarang qt mengenal Allah hanya baru dari sifat2Nya saja , dgn perjuangan penuh pada akhirnya qt akan mengenal SIFAT2 itu semua dari ALLAH. amin.

    ma’af kang boed saya sdg berbagai pendapat, bukan menggurui. salam kenal kembali kang.

    • kangBoed
    • Posted 8 Februari 2009 at 7:52 pm
    • Permalink

    Salam Persahabatan

    Masuklah kedalam pusaran cinta Illahi
    Serahkan lah seluruh kepemilikanku tanpa kecuali
    Jangan kau sisakan walau hanya sedikitpun serahkanlah semuanya
    Karena semua bukan milik mu, palsu itu semua
    Kembalikan semua tak terkecuali tubuh jiwa dan rohmu

    Masuklah hanya dengan bermodalkan niat yang kuat
    Semangat dan tekad untuk menyusuri jalan Cinta
    Biarkan rengkuhan tanganNya menarikku dalam ketak berdayaan
    Kekuatannya merubahku menjadi baik, lebih baik lagi
    Dalam kelemahanku ku dibentukNYA sesuai kehendakNYA

    Cinta mendatangkan kerinduan dan rasa ingat
    Rasa ingat akan pertemuan demi pertemuan berikutnya
    Rasa itu bagai pemuas dahaga ditengah padang pasir kehinaan
    Rasa itu bagai lamunan tak berkesudahan
    Lamunanku duduk sendiri berjalan mondar mandir dengan pasti

    Lamunan itu menemukan kekosongan
    kekosongan yang sungguh menenangkan jiwa
    ketenangan yang akhirnya membangkitkan kesadaran
    kesadaran akan kekosongan
    Botooool kosooong nyaring bunyinya

    Dari
    si Botoool kosooong

  6. rahayu
    Tokoh Seh Siti Jenar adalah tokoh kontraversial pada masa giripura, dengan aliran heterodok religius. Memang ada dan membuat penasaran setiap orang, apalagi dengan adanya dunia internet menjadi semakin sperti hidup kembali saja…..
    peace and love
    wass wb
    ___________
    yah … begitu mas hidayat. semakin “HIDUP”.

    salam damai.

    • juned
    • Posted 3 April 2009 at 5:23 pm
    • Permalink

    maaf tarekat SSJ BUKANKAH TAREKAT AKMALIAH .APAKAH MASIH ADA DIJAWA.KOK NDAK DENGAR

    • tommy arifianto
    • Posted 29 April 2009 at 4:57 pm
    • Permalink

    assalamuálaikum wr.wb.
    komentar saya dalam memahami tarekat SSJ haruslah berhati-hati agar tidak menimbulkan kesesatan pemahaman , minimal kita harus belajar bahasa sastra tinggi . dan jangan jauh dari syariát Islam.

    • tommy arifianto
    • Posted 29 April 2009 at 5:05 pm
    • Permalink

    Dan pemahaman tentang ucapan SSJ “MANUNGGALING KAWULO GUSTI”jangan di artikan begitu saja , karena mahluk dan Tuhan (ALLAH) tidak akan bisa bersatu. maksud dari kawulo= rakyat dan gusti= para petinggi entah raja,pemerintahan, atau atasan apapun. maka “MANUNGGALING KAWULO GUSTI” itu adalah kebersamaan rakyat dan petinggi lainnya bersatu dalm menjaga keutuhan ibu pertiwi.

  7. Allohu Akbar….pencapian kedalaman jiwa tak bisa di ungkapkan dengan kata2..kecuali merasakannya sendiri…

    • a bonang
    • Posted 5 Januari 2010 at 3:11 pm
    • Permalink

    bolehkan aku mengambil beberapa tulisan yang saudara senuruniah untuk menambah wawasan saya, karen a aku sangat mengajumi ajaran dari sang syeh

    • ibad
    • Posted 14 Februari 2010 at 2:32 pm
    • Permalink

    mhom izin minta artikelnya ya,…..

    • .
    • Posted 23 Februari 2010 at 12:26 am
    • Permalink

    saya ingin tau,,apakah sang penulis bs mmbntu saya untuk bertemu guru yang bisa mngajarkan saya tntng ilmu ini..
    mmbka hati saya agar bs mncapai ksmpurnaan.

  8. kalau memberitahu dari guru ke guru yang lain sepertinya kurang mengena. artinya nantinya akan muncul ada bagian2 yang bisa menimbulkan fitnah. untuk sementara … sepengetahuan saya anda bisa memperdalam tentang makna-makna ke”sufi”an dari bapak ABU SANGKAN. beliau aktif mengajar di ATRIUM (dulunya segita SENEN).

  9. manunggaling kaula gusti.
    adalah ajaran pokok makrifat syekh siti jenar yang mana ajaran itu hampir mirip dengan ajaran mansyur al halaj(ana al haq).syekh siti jenar adalah salah satu ahlul bait dari rasulullah dari shahabat ali kw.

  10. manunggaling kaula gusti.
    adalah ajaran pokok makrifat syekh siti jenar yang mana ajaran itu hampir mirip dengan ajaran mansyur al halaj(ana al haq).

    • nandro wicaksono
    • Posted 18 Juni 2010 at 5:35 pm
    • Permalink

    oke.. setuju benget. dunia penuh kepalsuan, tapi bagaimanapun kepalsuan tetap juga harus dinikmati. karena Dia Ada dan mengAdakan hanya untuk dinikmati. Naaah, enak tidaknya itu kan tergantung cara kita2 menikmatinya.. Kalau yang di luar sama2 menikmatinya seperti yang didalam berarti sudah menyatu.. Didunia ini kita hanya membentuk wujud yang sama persis dengan yang di dalam… Yang paling sulit adalah membentuk struktur tubuh itu sendiri sebagai wadah roh kita bila maut menjemput… tahapannya berat banget.. ” selamat mencoba menyusun wujud “.. Tidak ada wujud maka tidak ada pula yang harus ditanyakan…. MUSNAH dan TIDAK JELAS.. “coba saja masuk kedalam rahim “…. Tahap 1, ilmu istinja (kebersihan)….

    • dwi wahyu
    • Posted 5 Juni 2011 at 4:17 pm
    • Permalink

    wah numpang mas….Asyik nich kayaknya argumen tarekt ssj, ngomong2 dimana c sang guru tuduh untuk saat ini sebagai pngganti ssj yg bisa mngajarkan ajarnya ssj, ada gak yah yg bisa ngasih tw alamtnya soalnya saya pngn belajar

  11. @ dwi wahyu

    Salam kenal,

    untuk “guru” dari tarekat SSJ sudah tidak ada, tapi yang meng”aku” dan me”rasa” seperti SSJ itu banyak. tapi yang terpenting barangkali, anda jangan melihat dari gaya-gaya perbahasa. percaya atau tidak jika anda masuk dalam dimensi SSJ anda tidak akan pernah menyentuhnya. karena SSJ bercerita dalam ke”duduk”annya yang sudah jadi. yang ada kita hanya menjadi berkhayal dalam penuh kepesonaan.

    lantas bagaimana ?
    kita masuk dalam mazhab “rasulullah” saw. kanjeng muhammad saw. karena beliau satu2nya yang di “tunjuk” untuk menjadi rahmatan lilalamin. beliau mengajarkan “perjalanan” yang sangat mendasar tetapi juga mendaki. apa yang pernah anda baca dalam sebuah kalimat yang membuat anda “kagum” maka rasulullah telah meletakkan ke “kagum”an itu dalam sebuah mujijat yaitu “alqur’an” dan “as-sunnah”.

    baginda rasulallah telah di”tunjuk” untuk semua makhluk. beliau telah mencapai hekekat keTUHANan. dan kalau kita berbicara masalah ke”sakti”an, maka rasulallah muhammad saw telah di tunjuk sebagai “imam” para nabi .. beliau mencapai kedudukan tertinggi dalam perjalan kepada TUHAN dan menceritakan kepada seluruh umat. hasilnya tidak ada sesuatu yang di rahasiakan.

    lantas bagaimana yang mengikuti mazhab rasulullah saw. sekarang ?
    ternyata ISLAM tidaklah mudah ! …. lebih berat ketimbang tarekat SSJ. masuk dalam hakekat dimensi ISLAM seperti kita menggenggam sebuah “bara”. jadi semuanya tergantung kita kuat atau tidak !. dan rasulallah saw telah menunjukkan jalan untuk mempermudah pendakian yang amat tinggi … itulah yang kita kenal dengan syariat. yang kalau kita jalani dengan penuh ketaqwaan, kita akan mengenal kepada maqam ma’rifat (tajalli) insya allah.

    ———-
    m@sJK

    • sunu setiawan
    • Posted 14 Agustus 2011 at 8:58 am
    • Permalink

    ojo nggolek narang 2 utawa 3. nggolek’o barang 1. margo 1 kuwi seng nyedak’i 0

    —————–
    saya baru ngerti bahasa ng’ge’ aja pak de sunu .. :-D

  12. hehehe maaf kalau pakai bahasa jawa tidak bisa dipahami, okey akan saya coba terjemahkan dlm bahasa indonesia kira2 begini. “jangan mencari barang yg kedua atau yg ke tiga. carilah barang yang pertama atau ke satu, karena bilangan satu yang paling mendekati nol atau kosong” ini adalah wasiat dari guru saya yg saya terima lewat mimpi, dan tlg untuk di terjemahkan sendiri.

  13. Ini menurutku, loh:

    Satu itu memastikan ada
    Dua itu menunjukkan beda
    Tiga itu menyatakan kehidupan

    Salam Damai!

    ————————

    AKU yang memiliki HIDUP keHIDUPan. AKU ingin dikenal maka AKU ciptakan keHIDUPAN “dunia” HAMBA2KU. dan tetap AKU yang PERTAMA dan AKU pula yang terAKHIR.

    mungkin kita cuma beda bahasa saja. tapi lumayan, nulisnya agak2 pusing dikit sih … :-D

    • malik
    • Posted 14 Januari 2012 at 4:51 pm
    • Permalink

    untuk konsultasi seputar SUFI, datang saja di Redaksi CAHAYA SUFI Jln. BEKASI TIMUR 4/15 Jatinegara, Jakarta Timur Tlp. 021 8561695. Atau silahkan kunjungi http://www.sufinews.com

    Terimakasih, Malik

    • Pengelana Semesta
    • Posted 28 Juni 2012 at 7:11 pm
    • Permalink

    ijin nyimak….

    • isbear ghetex's
    • Posted 13 Juli 2012 at 10:28 pm
    • Permalink

    okeeeee siiip, rupanya sang sufi sejati dari tanah jawa telah hidup kembali di hati dan alam fikiran hamba hamba yang tak kenal lelah berusaha tuk kembali menuju kesejatian ( asale soko Gusti baline yo kudu nyawiji maneh menyang Gustine ). ajaran kebenaran walau pada awalnya ditenggelamkan oleh keadaan pada akhirnya harus muncul kembali pada jaman yang berbeda. selamat mengkaji kembali ajaran SSJ konco-konco, salam kenal ……pengunjung dari lampung

    • slamet isihono
    • Posted 11 Agustus 2012 at 3:34 am
    • Permalink

    mudah-mudahan bisa di mengerti dan di fahami,sbb tanpa itu semua akan menjadi duri dlm diri dan semua jtu akan berlanjut pada pakerti budi pada diri

  14. Tafsir Kisah Musa dan Khidir (menurut Syekh Siti Jenar)

    “Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok
    lain yg terpisah sama sekali dari
    keberadaan manusia rohani. Apa yg
    disaksikan sebagai tanah menjorok dgn
    lautan di sebelah kanan dan kiri itu
    bukanlah suatu tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah yg disebut
    perbatasan (barzakh). Dua lautan itu
    adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na),
    perlambang alam tidak kasatmata (‘alam
    al-ghaib) dan lautan Jisim (bahr al-ajsam),
    perlambang alam kasatmata (‘alam asy- syahadat).” “Sedangkan kawanan udang adalah
    perlambang para pencari Kebenaran yg
    sudah berenang di perbatasan alam
    kasatmata san alam tidak kasatmata.
    Kawanan udang perlambang para
    penempuh jalan rohani (salik) yg benar- benar bertujuan mencari Kebenaran.
    Sementara itu, kawanan udang yg
    berenang di lautan sebelah kiri, di antara
    batu-batu, merupakan perlambang para
    salik yg penuh diliputi hasrat-hasrat dan
    pamrih-pamrih duniawi.” “Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi
    Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana
    termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim,
    bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang
    manusia bertemu manusia lain. Ia adalah
    peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di dalam diri Nabi Musa AS
    sendiri. Sebagaimana yg telah saya
    jelaskan, yg disebut dua lautan di dalam Al-
    Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah
    Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan
    Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan
    atau sekat (barzakh).” “Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu
    merupakan perlambang dunia kasatmata
    (‘alam asy-syahadat) yg berbeda dengan
    wilayah perbatasan yg berdampingan dgn
    dunia gaib (‘alam al-ghaib). Maksudnya,
    jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari
    tempatnya berdiri, yaitu di wilayah
    perbatasan antara dua lautan, maka Nabi
    Musa AS akan melihat sang ikan
    berenang di dalalm alamnya, yaiu lautan.
    Jika saat itu Nabi Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa
    sang ikan yg berenang itu dapat melihat
    segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air
    (dilambangkan manusia juga sama).
    Maknanya, sang ikan hidup di dalam air
    dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat iar dan tidak
    sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah
    sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air
    yg meliputi bagian luar dan bagian dalam
    tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia
    akan selalu diliputi air yg tak bisa dilihatnya.” “Sementara itu, seandainya sang ikan di
    dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari
    tempat hidupnya di dalam air lautan maka
    sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di
    dalam dunia-yang diliputi udara kosong-
    dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yg meliputinya itu.
    Maknanya, Nabi Musa AS hidup di dalam
    liputan udara kosong yg ada di luar
    maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak
    bisa melihat udara kosong dan tidak sadar
    jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa AS tidak dapat
    hidup tanpa udara kosong yg meliputi
    bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana
    pun Nabi Musa AS berada, ia akan selalu
    diliputi udara kosong yg tidak bisa
    dilihatnya.” “Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg
    mendampingi Nabi Musa AS dan
    membawakan bekal makanan adalah
    perlambang dari terbukanya pintu alam
    tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik
    keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka (al-
    Fattah). Sebab, hijab gaib yg
    menyelubungi manusia dari Kebenaran
    sejati tidak akan bisa dibuka tanpa
    kehendak Dia, sang Pembuka (al-Fattah).
    Itu sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS, pemuda (al-fata) itu disebut-
    sebut lagi karena ia sejatinya merupakan
    perlambang keterbukaan hijab ghaib.” “Adapun bekal makanan yg berupa ikan
    adalah perlambang pahala perbuatan
    baik (al-‘amal ash-shalih) yg hanya
    berguna untuk bekal menuju ke Taman
    Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari
    Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut
    penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang
    pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan
    hingga ikan bekalnya masuk ke dalam
    lautan.” “Andaikata saat itu Nabi Musa AS
    memerintahkan si pemuda untuk mencari
    bekal yg lain, apalagi sampai memburu
    bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut,
    niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda
    tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al- ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka
    setan berhasil memperdaya Nabi Musa
    AS.” “Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn
    bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa
    tempat di mana ikan itu melompat ke
    lautan adalah tempat yg dicarinya
    sehingga tersingkaplah gumpalan kabut
    ghain dari kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau
    dan Nabi Musa AS dapat melihat Khidir
    AS, hamba yg dilimpahi rahmat dan kasih
    sayang (rahmah al-khashshah) yg
    memancar dari citra ar-Rahman dan ar-
    Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar dari Sang Pengetahuan (al-
    Alim).” “Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir
    AS karena dia merupakan hamba-NYA yg
    telah mereguk Air Kehidupan (ma’ al-
    hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-
    Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di
    antara manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah wilayah perbatasan antara
    dua lautan, sesungguhnya manusia itu
    telah menyaksikan pengejawantahan
    Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang
    (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir AS
    itu tidak lain dan idak bukan adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg
    tersembunyi di dalam diri manusia, “Sang
    Penuntun” anak keturunan Adam AS ke
    jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun
    dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan
    Kebenaran (al-Haqq). Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang Maha
    Menunjuki (as –Rasyid).” “Demikianlah, saat sang salik melihat Khidir
    AS sesungguhnya ia telah menyaksikan
    ar-roh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri
    manusia sendiri. Saat ia menyaksikan
    kawanan udang di lautan sebelah kanan,
    sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna (bahr-al-ma’na) yg
    merupakan hamparan permukaan Lautan
    Wujud (bahr al-wujud). Namun, jika
    terputus penglihatan batiin (bashirab) itu
    pada titik ini, berarti perjalanan menusia itu
    menuju ke Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.” Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju
    Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda
    kebesaran Ilahi yg hanya bisa
    diungkapkan dalam bahasa perlambang.
    Sesungguhnya, masing-masing menusia
    akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam
    menangkap kebenaran demi kebenaran.
    Yang jelas, pengalaman yg akan manusia
    alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg
    dialami Nabi Musa AS.” “Setelah berada di wilayah perbatasan,
    Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan
    melanjutkan perjalanan memasuki Lautan
    Makna, yaitu alam tidak kasatmata.
    Mereka kemudian digambarkan
    menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk
    menyeberang itu adalah perlambang dari
    wahana (syari’ah) yg lazimnya digunakan
    oleh kalangan awam untuk mencari ikan,
    yakni perlambang perbuatan baik (al ‘amal
    ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna menuju
    Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg
    sangat pribadi menuju Lautan Wujud.
    Itulah sebabnya, perahu (syari’ah) itu
    harus dilubangi agar air dari Lautan
    Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal hakikat air
    yg mengalir dari lubang tersebut.” “Setelah penumpang perahu mengenal
    air yg mengalir dari lubang maka ia akan
    menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah
    sesungguhnya ia akan bisa masuk ke
    dalam Lautan Makna yg merupakan
    permukaan Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian
    perahu diteruskan berlayar, maka perahu
    itu tentu akan dirampas oleh Sang Maha
    Raja (malik al-Mulki) sehingga
    penumpangnya akan menjadi tawanan.
    Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak
    bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia,
    Yang Maha Ada (al-Wujud), yg
    bersemayam di segenap penjuru
    hamparan Lautan Wujud. Penumpang
    perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain, yakni akan
    dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha
    Raja. Bahkan, jika Sang Maha Raja
    menyukai hamba sahaya-NYA itu maka ia
    akan diangkat sebagai penghuni Taman
    (jannah) indah yg merupakan pengejawantahan Yang Maha Indah (al
    Jamal).” “Adapun Atas Pernyataan kenapa
    wahana (syariah) harus dilubangi dan
    tidak lagi digunakan dalam perjalanan
    menembus alam ghaib manuju Dia?
    Dapat dijelaskan sebagai berikut.” “Sebab, wahana adalah kendaraan bagi
    manusia yg hidup di alam kasatmata untuk
    pedoman menuju ke Taman Surgawi.
    Sedangkan alam tidak kasatmata adalah
    alam yg tidak jelas batas-batasnya. Alam
    yg tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal manusia mengikat itu tidak
    bisa berijtihad untuk menetapkan hukum
    yg berlaku di alam gaib. Itu sebabnya,
    Khidir AS melarang Nabi Musa AS
    bertanya sesuatu dgn akalnya dalam
    perjalanan tersebut. Dan, apa yg disaksikan Nabi Musa AS terdapat
    perbuatan yg dilakukan Khidir AS benar-
    benar bertentangan dgn hukum suci
    (syari’at) dan akal sehat yg berlaku di
    dunia, yakni melubangi perahu tanpa
    alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah dan menegakkan tembok runtuh
    tanpa upah.” “Namun jika wahana (syari’ah) tidak lagi
    bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya
    pedomannya tetaplah sama, yaitu
    Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi
    pemahamannya bukan dgn akal (‘aql)
    melainkan dgn dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara (thariqah). Di
    sini, sang salik selain harus berjuang keras
    juga harus pasrah kepada kehendak-
    NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil
    araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya
    mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-
    NYA maka kita pun tidak akan bisa
    mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA
    pun maka hanya melalui Dia (walaupun
    kita tidak mau tetapi semua telah
    kehendak-NYA). Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yg tidak jelas batas dan
    tanda-tandanya itu kita tidak dapat
    berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya
    dan mengharap limpahan rahmat dan
    hidayah-NYA.” “Tentang makna di balik kisah Khidir AS
    membunuh seorang anak (ghulam) dapat
    saya jelaskan sebagai berikut.” “Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil
    yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak- kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.” “Sesungguhnya, di dalam perjalanan
    rohani menuju Kebenaran Sejati selalu
    terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yg
    kekank-kanakan (ghulam) dari salik
    cenderung mengikari kehambaan dirinya
    terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana
    ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul).
    Ghulam cenderung durhaka dan ingkar
    terhadap kehambaan kepada Sang
    Rasul. Jika keakuan yg kerdil dan
    kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yg lebih baik dan lebih
    diberbakti yg melihat dengan mata batin
    bahwa dia sesungguhnya adalah “hamba”
    dari Sang Rasul, pengejawantahan
    Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).” “Sesungguhnya, keakuan kerdil yg
    kekanak-kanakan adalah perlambang dari
    keberadaan nafsu manusia yg cenderung
    durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya.
    Sedangkan ghulam yg baik dan berbakti
    merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg cenderung setia dan
    berbakti kepada Sumbernya. Dan
    sesungguhnya, perbuatan Khidir AS itu
    adalah perlambang yg sama saat Nabi
    Ibrahim AS akan menyembelih Nabi Ismail
    AS ‘Pembuhunan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yg beriman
    (mu’min).” “Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS
    adalah perlambang Sekat Tertinggi (al
    barzakh al ‘a’la) yg disebut juga dgn Hijab
    Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman).
    Dinding itu adalah pengejawantahan
    Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan Dinding al-
    Jalal (al jidar al-Jalal), yg dibawahnya
    tersimpan Khazanah Perbendaharaan
    (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.” “Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini
    yatimaini) pewaris dinding itu adalah
    perlambang jati diri Nabi Musa AS, yg
    keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi
    (al-basyar) dan rohani (roh). Kegandaan
    jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan
    tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil
    sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam
    waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua
    anak yatim itu adalah perlambang
    gambaran Nabi Musa AS dan bayangannya di depan Cermin
    Memalukan (al-mir’ah al-haya’I).” “Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’
    dari kedua anak yatim, yakni ayah yg
    mewariskan Khazanah Perbendaharaan ,
    adalah perlambang diri dari Abu halih,
    Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-
    futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah
    dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan
    bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82)
    menurut penafsiran adalah perjalanan
    rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya
    sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat) .” “Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu.
    Namun, keberadaan jati dirinya
    sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama
    keberadaan sebagai al-basyar ‘anak’
    Adam AS yg berasal dari anasir tanah yg
    tercipta; dan keberadaannya sebagai roh ‘anak’ Cahaya Yang Terpuji (Nur
    Muhammad) yg berasal dari tiupan
    (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun
    ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar,
    keberadaan jasad ragawi nabi Musa AS
    berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).” “Sehingga tidak akan pernah terjadi
    perseteruan dalam memperebutkan
    Khazanah Perbendaharaan warisan
    ayahnya yg shalih. Sebab, saat keduanya
    berdiri berhadap-hadapan di depan
    Dinding al-jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu
    yg ada hanya satu anak yatim.
    Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar
    ‘anak’ Adam AS akan terserap ke dalam
    roh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah
    sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas cahaya
    (Nurun ‘ala Nurin) yg merupakan
    pancaran dari Khazanah
    Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal
    semacam itu tidak bisa diuraikan dgn
    kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani
    dan dialami sendiri sebagai sebuah
    pengalaman pribadi.”

  15. Salam bathin, saya mohon diberi maaf sebesarnya kalau tulisan saya yang tidak bermakna apapun ini, kiranya tidak berkenan dihati dan pemikiran saudara semuanya. Langsung pada tulisan diatas yang sarat makna dan tidak bisa difahami secara harfiah, maka saya ingin urun rembuk ikut sesuai pemahaman saya yaitu :

    1. Tidak ada yang salah dengan pemahaman syeh Siti Jenar, semua adalah rahasia yang dalam dan tinggi yang tidak diragukan kebenarannya.

    2. Berlakunya sunnahtullah, hukum sebab akibat yang diterima oleh syeh Siti Jenar adalah sesuatu yang hak yang harus terjadi, karena karena ” hijab ” rahasia yang diberikan Allah SWT kepadanya dibuka tanpa perkenanNya atau tanpa redhonya karena sebagai hamba, dia takabur dengan melisankan rahasia itu kepada yang tidak berhak. Bumi langit dan seisinya telah diciptakan Hyang Maha Kuasa dengan tertib dan terukur, ” hijab” hanya dibuka pada hambaNya yang mendapat barokah dan karunia. siapapun yang melampaui hukum tersebut pasti dan wajib menerima akibatnya diminta ataupun tidak.

    3. Senior saya mengatakan, mengaku Allah itu adalah melakukan 3 dosa besar sekaligus, yang pertama ujub/takabur yang kedua syirik karena mengaku diri Tuhan selain Tuhan itu sendiri dan yang ketiga adalah kafir karena mengajarkan umat untuk tidak melakukan syariah/sholat yang telah wajibkan melalui baginda nabi Muhamad SAW.

    4. Baik syeh Siti Jenar ataupun al Hallaj yang keduanya menerima nasib yang sama, toh tidak mampu lari dari kehendak yang Maha Kuasa dan lari dari hukuman, mereka tidak mampu menembus bumi ataupun terbang kelangit untuk melarikan diri dari hukuman . Mereka sepenuhnya tunduk dan mengakui dirinya sebagai abid, sebagai hamba yang hina dan naif.

    Jadi menurut saya sih, seyogyanya para saudara sedulur jangan terkisima dengan ajaran syeh Siti Jenar, ajaran itu hanya untuk orang-orang terpilih yang memang memiliki hak, bahwa seorang syeh Siti Jenar saja masih tidak mampu menghayatinya dengan cara yang amar makruf nahi munkar, apatah lagi kita-kita ini, dijaman virtual yang serba instan, jauh lebih baik menurut saya maknailah hidup sebagai hamba yang paling banyak ” bermanfaat bagi manusia dan kehidupan ” dari pada takjub dan terkesima dengan sesuatu yang mungkin tidak bisa dan mampu anda pahami dengan benar.

    Wabillahi taufik walhidayah,……….

  16. Bagi saudaraku yang menghendaki pemahaman lebih lanjut tentang tarekat silakan kunjungi: akmaliah.net (sebuah situs yang menampilkan kajian mulai dari tarekat, hakekat, hingga ma’rifat), dalam bentuk audio MP3, rekaman maupun live.

    • lutfi
    • Posted 7 Juli 2013 at 7:35 pm
    • Permalink

    pernyataan SSJ:
    sadat salat pasa tan apti
    seje jakat kaji mring mekah
    iku wus palson kabeh
    nora kena ginugu
    sadayeku durjaning bumi
    ngapusi liyan titah
    sinung swarga besuk
    wong bodho anut aliya
    tur nyatane padha bae durung uning
    seje ingsun lemah abang
    (pupuh III dandang gula)

  17. yang pasti jangan lah air setetes tu menyatakan dirinya lautan, walapun lautan itu adalah air, tapi air bukanlah lautan

  18. Jika allah swt berkehendak insa allah ta adapun jadi ada dalm setiap ajaran kita wajib mempelajarix, ttuxa yg baik,, dan intixa tada yang tak mukin dan iklas adlh kuci utama dan saya berharap shabt mau ber tkar pendapat tentang hal ini wasalm


2 Trackbacks/Pingbacks

  1. By Comment on Tarekat SITI JENAR « Kang Boed on 26 Apr 2009 at 3:07 pm

    […] 12:00:06 am on Januari 30, 2009 | # | 0 Comment on Tarekat SITI JENAR […]

  2. By Misteri Nama KangBoed « KangBoed on 28 Apr 2009 at 12:48 am

    […] Tarekat SITI JENAR […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: