INGSUN, ALLAH, & KEMANUNGGALAN
“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.”
Pernyataan Syekh Siti Jenar di atas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”
Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.
Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.
“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera”
Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.
Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.
Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.
“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya?”
Sekalipun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.
Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.
Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.
Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah.
Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.
“Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.”
“…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-’aliyi al-’adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”
Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.
“Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah”
Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.
Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.
15 Komentar
Salam kenaaaalll sepenuuuh bumi dan langit
kerreeeen abiizzzz…
Selamat Tahun Baru Hijrah
1 Muharram 1430 H…
Semoga kita Semuanya selalu dalam Rahmat dan Ridho-Nya semata…
___________
Selamat Tahun Baru Hijriah … insya Allah qt semua dari hari ke hari senantiasa selalu mendapat kemajuan. amin.
gue suka banget ama artikel yang kerennn banget blog yang cool…salam buat siti2 jenar yang lain…
____________
sy juga demikian … artikel ini sy ambil dari salah satu sumber, karena isinya cukup sederhana tapi perlu kesabaran dalam penafsiran. kalau bang vickyry punya perjalanan SITI JENAR versi Agus Sunyoto …. sy sangat berharap dapat ikut baca …
izin ya..minta artikel nya
_________
alhamdulillah … silahkan bang reza, salam kenal dan artikel inipun sy boleh ambil dari sumber lain (cuma lupa dimana)
Postingan yang bagus dan mencerahkan!
Manshur Al-Halaj pernah berkata: “Hidup dan mati bagiku sama saja”
Hidup sesudah mati harus dirasakan di dunia ini sebagaimana sabda Nabi, “matilah diri mu sebelum engkau mati”.
Tanpa mengalami mati tidak akan mungkin bisa berjumpa dengan Al-Haq.
Makasih ya udah mampir di sufimuda
____________
“mautu antal qobla maut” –> merasakan mati sebelum mati. mungkin mirip “tertutupnya sembilan babakan hawa songo” (wejangan wali). sekian detik … tapi manfa’atnya tidak bisa dilukiskan.
Ass.
nderek Mampir kang……..
Kosong adalah isi,isi adalah kosong “Tomsamcong”
Mati sakjroning urip supoyo biso urip sakjroning pati.
khuburlah kehendakmu melebur (pasrah)dengan Qoda’ dan Qodar didalam pengapdianmu pada Allah Ta’ala.Supaya ruhaniah (ruh) dalam jasadmu hidup.setelah hidup berilah iya makan (dgn Dzikirullah)dan peliharah ia,agar berkembang dalam pengembaraanya supaya sampai ketujuan dengan ridhoNya.
Semoga niatan yang baik dan keiklasan yang terpancar dari hati,menjadikan matahati yang tembuspandang.terbang ke haribaanNya.bermusahadah,bermujalasah,bersimpuh dipermadani singgasanaNya.Amin Amin yarobbal’alamin
_____________
alhamdulillah … insya allah .., saat ini masih dalam tahap riyadah … terima kasih. jd + semangat.
salam kenal ya Mas
setuju sekali
“sedetik engkau fana itu lebih baik dari beramal seribu bulan”
________
bukan main …. insya allah .., demikian kalau sudah mengerti hakekat lailatul qadar.
Sugeng tepang mas, anu..nuwun sewu nggih badhe nderek ngangsu kaweruh.
Abad ini Kanjeng SSJ rupanya sudah mulai wungon..
___________
harapan pribadi begitu mas …. karena yang qt lihat mayoritas agama berperan tidak lebih hanya sebagai “pelengkap” saja. wejangan2 SSJ sesungguhnya sangat perlu di sebar luas, untuk memahami dan membangunkan kesadaran apa itu makna HIDUP.
terima kasih kunjungannya. insya allah sy mampir ke rumah mas harjuno
Benar adanya cerita SSJ tidak mati, buktinya masih banyak orang yang rindu ajaran SSJ. Hidup seperti cacing ditanah merah.
MERDEKA…..
Salam Kenal mas
Setuju mas inilah dunia yang penuh kepalsuan barang baru, semua sejatinya tiada bohong semua alias dagelan, manusia berkehendak bebas tanda tanya besar ya… he he
Kita sebenarnya dilengkapi satu piranti yang hanya kita sebagai manusia yang punya yaitu hati nurani, barang lama saking kelamaan dan usangnya hampir sebagian besar dari kita lupa bahwa kita mempunyainya dan mereka lupa hati nuranilah yang membuat kita sebagai manusia diberi kelebihan dari semua makhluk ciptaan Allah lainnya, dan ketika kelebihannya itu tak dipakai bahkan dilupakan maka terjadilah kerusakan tatanan kehidupan
He he he sekedar menambahkan dari saya yang botol alias bodoh dan tolol, kok dari martabat pertama loncat mas ke martabat ke empat, dari alam Zat “inilah Gusti Kang Amurbeng Wisesa” langsung ke alam af’al mana mas alam sifat dan alam asmanya ma kasih mas biar penjelasannya lebih jelas buat kita semua mas, terus bicara judul khan tarekat SSJ tolong bagi bagi dong laku dan amalannya untuk pencerahan
Salam Persahabatan
_________
qt ada baiknya jangan terikat dengan penamaan “istilah2″ dalam tanjak2an bathin. seperti halnya syari’at, tarekat, hakekat dan ma’rifat. sy lebih suka me”lakon”i dengan tauhid yang murni. artinya ada ungkapan bahwa “awwaluddin mima’rifatullah” [sebelum menghayati suatu agama kita harus ma'rifat dulu kepada allah]. hal ini dapat dicapai hanya dengan kesungguhan dalam hablumminallah secara pribadi [untuk memperoleh pencerahan]. “[...] jika ingin berjumpa dengan AKU maka hendaklah ia berbuat baik dan beramal soleh”.
kang boed, qt sama2 hrs berbuat .. kalau qt telah mengenal SIFAT2NYA maka AKBARkan dalam kehidupan ini. yang ringan2 saja …. kalau diri ini ingin menjadi “tempat” (warongko) maka selaraskan perbuatan dengan af’al-NYA yang selalu penuh dengan kasih dan sayang [bismillah ...] dgn kesungguhan sabar. barangkali sekarang qt mengenal Allah hanya baru dari sifat2Nya saja , dgn perjuangan penuh pada akhirnya qt akan mengenal SIFAT2 itu semua dari ALLAH. amin.
ma’af kang boed saya sdg berbagai pendapat, bukan menggurui. salam kenal kembali kang.
Salam Persahabatan
Masuklah kedalam pusaran cinta Illahi
Serahkan lah seluruh kepemilikanku tanpa kecuali
Jangan kau sisakan walau hanya sedikitpun serahkanlah semuanya
Karena semua bukan milik mu, palsu itu semua
Kembalikan semua tak terkecuali tubuh jiwa dan rohmu
Masuklah hanya dengan bermodalkan niat yang kuat
Semangat dan tekad untuk menyusuri jalan Cinta
Biarkan rengkuhan tanganNya menarikku dalam ketak berdayaan
Kekuatannya merubahku menjadi baik, lebih baik lagi
Dalam kelemahanku ku dibentukNYA sesuai kehendakNYA
Cinta mendatangkan kerinduan dan rasa ingat
Rasa ingat akan pertemuan demi pertemuan berikutnya
Rasa itu bagai pemuas dahaga ditengah padang pasir kehinaan
Rasa itu bagai lamunan tak berkesudahan
Lamunanku duduk sendiri berjalan mondar mandir dengan pasti
Lamunan itu menemukan kekosongan
kekosongan yang sungguh menenangkan jiwa
ketenangan yang akhirnya membangkitkan kesadaran
kesadaran akan kekosongan
Botooool kosooong nyaring bunyinya
Dari
si Botoool kosooong
rahayu
Tokoh Seh Siti Jenar adalah tokoh kontraversial pada masa giripura, dengan aliran heterodok religius. Memang ada dan membuat penasaran setiap orang, apalagi dengan adanya dunia internet menjadi semakin sperti hidup kembali saja…..
peace and love
wass wb
___________
yah … begitu mas hidayat. semakin “HIDUP”.
salam damai.
maaf tarekat SSJ BUKANKAH TAREKAT AKMALIAH .APAKAH MASIH ADA DIJAWA.KOK NDAK DENGAR
assalamuálaikum wr.wb.
komentar saya dalam memahami tarekat SSJ haruslah berhati-hati agar tidak menimbulkan kesesatan pemahaman , minimal kita harus belajar bahasa sastra tinggi . dan jangan jauh dari syariát Islam.
Dan pemahaman tentang ucapan SSJ “MANUNGGALING KAWULO GUSTI”jangan di artikan begitu saja , karena mahluk dan Tuhan (ALLAH) tidak akan bisa bersatu. maksud dari kawulo= rakyat dan gusti= para petinggi entah raja,pemerintahan, atau atasan apapun. maka “MANUNGGALING KAWULO GUSTI” itu adalah kebersamaan rakyat dan petinggi lainnya bersatu dalm menjaga keutuhan ibu pertiwi.
Allohu Akbar….pencapian kedalaman jiwa tak bisa di ungkapkan dengan kata2..kecuali merasakannya sendiri…
2 Lacak Balik / Ping Balik
[...] 12:00:06 am on Januari 30, 2009 | # | 0 Comment on Tarekat SITI JENAR [...]
[...] Tarekat SITI JENAR [...]